Pjs Bupati Kediri, Heru Wahono Santoso, saat mengecek produksi kopi lereng wilis. Foto: Ist
Menanggapi hal itu, Ketua Gapoktan Dholo Indah menyebut dengan bekerja sama Perum Perhutani sekaligus mendapat perhatian dari pemerintah, kini jumlah petani kopi mencapai 300 petani dengan total luasan lahan 600 hektare. Bahkan, panenan kopi perdana pada tahun lalu telah menghasilkan 1 ton.
Dengan kondisi ini, petani kopi di lereng Gunung Wilis diminta agar meningkatkan kualitas produksi komoditas kopi tersebut. Diharapkan hal ini akan mempengaruhi harga jual panenan kopi.
“Tadi (Pak Pjs Bupati) meminta agar kualitas produksi kopi Lereng Wilis semakin ditingkatkan,” ungkapnya.
Di sisi lain, lanjut Prio, sejak pertama kali memulai produksi komoditas kopi pada 2021, diakui terdapat kendala tersendiri dalam mengelola area perkebunan, yakni masalah pipanisasi. Pihaknya pun berharap pemerintah daerah dapat membantu mengatasi kendala tersebut.
“Usul saya itu pipanisasi. Saya yakin kalau sudah ada pipanisasi pasti 100 persen berhasil,” sebutnya.
Kawasan lereng Gunung Wilis terfokus untuk menghasilkan kopi arabica dan robusta. Untuk komoditas kopi arabica ditanam dengan ketinggian di atas 900 MDPL, sedangkan robusta di bawah 900 MDPL. (adv/pkp)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




