KH Fahmi Amrullah Hadziq (Gus Fahmi). Foto: Tebuireng Official
JOMBANG, BANGSAONLINE.com – Pesantren Tebuireng Jombang Jawa Timur akhirnya menyampaikan sikap tegas. Pesantren yang didirikan Hadratussyaikh KH Muhammad Hasyim Asy’ari itu tak mau terlibat polemik nasab yang selama ini melanda warga NU.
“Jadi begini ya. Tebuireng tak pernah terlibat dalam polemik tentang nasab,” kata KH Fahmi Amrullah Hadziq (Gus Fahmi), Kepala Pesantren Putri Tebuireng Jombang yang dilansir dalam Tebuireng Official, media resmi Pesantren Tebuireng yang kini beredar luas.
BACA JUGA:
- Halal Bihalal Alumni Pesantren Tebuireng, Menhaj Gus Irfan: Menteri Tak Boleh Terima Amplop
- Hari Ini Munas Ikapete dan Festival Pesantren Tebuireng 2026 Digelar
- 3.300 Santri Tebuireng Ikuti Mudik Bareng Idulfitri
- Peringatan 1 Abad Nahdlatul Ulama Versi Masehi, Ribuan Peserta Ikut Napak Tilas Bangkalan-Jombang
“Kenapa? Pertama, membahas tentang nasab ini ndak ada manfaatnya sama sekali, khususnya bagi Tebuireng. Yang kedua, tidak penting,” tegas Gus Fahmi.
Justru yang terjadi, kata Gus Fahmi, memecah belah persatuan ummat.
“Jadi sebaiknya kita tidak melibatkan diri,” kata cucu Hadratussyaikh itu.
Menurut Gus Fahmi, ada dua lembaga di Indonesia yang mengkhususkan diri untuk menangani bab nasab yang bersambung kepada Rasulullah.
“Pertama RA atau Rabithah Alawiyah. Yang – biasanya – anggotanya bergelar habib,” tuturnya.
Kedua, tutur Gus Fahmi, NAAT. “NAAT ini singkatan dari Naqobah Ansab Awliya' Tis'ah. Ini yang menangani dzuriyah Kanjeng Nabi dari jalur Walisongo,” jelas Gus Fahmi.
Menurut Gus Fahmi, polemik nasab itu diawali dari sikap saling tidak mengakui dari kedua belah pihak.
“Dari Rabithah Alawiyah mengatakan dzuriyah Walisongo itu terputus. Kemudian dari Walisongo mengatakan Ubaidillah itu tokoh fiktif. Akhhirnya sampai menyebar dan sekarang ini melebar ke mana-mana,” kata Gus Fahmi yang juga Ketua Tanfidziyah PCNU Jombang.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




