KH Fahmi Amrullah Hadziq (Gus Fahmi). Foto: Tebuireng Official
“Karena itu kami dari Pesantren Tebuireng tidak melibatkan diri dalam polemik bab nasab ini, karena, saya katakan tadi, nggak ada manfaatnya sama sekali, nggak penting bagi kami. Itu saja,” tegas Gus Fahmi.
Menurut Gus Fahmi, dalam polemik nasab ini kita harus hati-hati dan berhusnuddzon (berprasangka baik). “Karena ini, nggak ada yang benar dan nggak ada yang salah (dalam) polemik nasab ini. Menurut saya, yang salah yang mempersoalkan. Nggak ada pekerjaaan saja, sepertinya,” katanya.
Karena itu ia menegaskan bahwa apa yang disampaikan dirinya dan KH Ahmad Musta'in Syafii bukan soal nasab. Tapi murni soal sejarah.
"Jadi kita tak membahas nasab," katanya sembari mengatakan, kalau ada yang menghubungkan dengan nasab karena sekarang masalah nasab sedang viral.
Tapi Gus Fahmi sempat merespons soal restu pendirian NU yang diklaim oleh 5 habib. Menurut Gus Fahmi, sejarah yang sudah jelas bahwa Hadratussyaikh Kiai Hasyim Asy’ari mendirikan NU atas restu Syaikhona Kholil Bangkalan dengan wasilah KH As’ad Syamsul Arifin. Bukan para habib.
Menurut Gus Fahmi, Kiai As’ad wafat tahun 1990. Kiai As’ad, tutur Gus Fahmi, sempat menceritakan tentang restu Syaikhona Kholil kepada Hadratussyaikh untuk mendirikan NU.
“Dan videonya ada. Karena beliau (Kiai As’ad) pelaku (sejarah). Itulah yang ditulis dalam buku-buku sejarah beridirinya Nahdlatul Ulama,” jalas Gus Fahmi.
Meski demikian Gus Fahmi mempersilakan orang-orang yang mengklaim itu menyampaikan data sejarah seperti manuskrip, saksi sejarah, dokumen dan sebagainya, jika ada klaim restu para habib.
Menurut dia, sejarah itu tak bisa didasarkan kepada perasaan dan keyakinan. Tapi harus ada bukti, baik saksi sejarah, manuskrip, prasasti dan sebagainya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




