Prof Dr KH Tolchah Hasan: AHWA seperti Benar, Tapi Mengandung Kebatilan

Prof Dr KH Tolchah Hasan: AHWA seperti Benar, Tapi Mengandung Kebatilan Prof Dr KH Tolchah Hasan. Foto: suarasantri

Menurut dia, ada indikasi pihak-pihak yang berada di balik konsep AHWA ini adalah mereka yang dulu ‘’dimenangkan’’ dalam di Makassar. Padahal –menurut Kiai Tolchah– di Makassar adalah paling buruk sejak NU didirikan. Karena Muktamar NU di Makassar sarat dengan kepentingan politik bahkan diwarnai dengan riswah atau money politics. (Baca juga: Ini Cerita Rais Syuriah PCNU Probolinggo saat dirinya Coba Disuap di Makasar)

‘’Jadi mereka yang bermain di Makassar itu ingin mempertahankan status quo-nya, yaitu mereka ingin tetap bertengger sebagai penguasa di PBNU,’’ papar Menteri Agama RI era Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu.

Karena itu pihaknya menyatakan tidak mau mencalonkan diri dalam Muktamar di Jombang dalam posisi apa pun, kendati ada pihak-pihak yang mendesak agar dirinya maju sebagai calon Rais Aam. Pihaknya juga menyatakan bahwa mencalonkan diri bukanlah kebiasaannya, sejak dulu sampai sekarang ingin tetap mempertahankan prinsip tersebut.

Menurut KH Tolchah, sangat sulit sekarang ini mencari ulama yang sekaliber para ulama yang memunculkan AHWA pada era Muktamar Situbondo tahun 1984 yang menghasilkan duet kepemimpinan KH Ahmad Siddiq sebagai Rais Am dan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai Ketua Umum Tanfidziah PBNU

Dalam pandangan Kiai Tolchah Hasan, kini kiai yang ada sekarang sudah terkontaminasi kepentingan politik jangka pendek seperti terlibat dalam Pilkada dan sebagainya. Ulama sekarang juga kerap masuk dalam kelompok hubbul jah dan hubbul maal (cinta kekuasaan politik dan cinta harta).

”Maka berlaku sebuah kredo, biasanya yang hubbul jah otomatis adalah hubbul maal . Mereka yang senang politik kekuasaan biasanya juga senang harta. Kalau sudah terperangkap dalam kredo ini maka tidak layak sebagai kiai wara, melainkan hanya kiai makelar saja atau broker kiai,’’ jelas mantan Rektor Universitas Malang (Unisma) ini.

Meski demikian, Kiai Tolchah tidak putus asa. Dia berharap akan muncul pemimpin yang lebih berkualitas dan mempunyai integritas yang tinggi pada di Jombang, sehingga masih ada harapan agar NU bisa lebih baik di masa mendatang. Menurut dia, pemimpin NU yang ada sekarang mulai dari tingkatan terendah hingga ke PBNU perlu ada perubahan secara revolusioner. Menurut dia, mempertahankan status quo adalah suatu tindakan mundur, karena pemimpin yang kini di NU tidak mempunyai kapasitas dalam menjawab tuntutan zaman. (tim)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Mobil Dihadang Petugas, Caketum PBNU Kiai As'ad Ali dan Kiai Asep Jalan Kaki ke Pembukaan Muktamar':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO