Ketua TP PKK Kota Kediri, Ferry Silviana Abu Bakar atau yang akrab disapa Bunda Fey, saat memberi keterangan kepada awak media. Foto: MUJI HARJITA/BANGSAONLINE
"Ketiga, ada beberapa style berbusana yang tidak tahu bagaimana respon lawan jenis. Kita tidak tahu apakah pelaku itu bisa menahan nafsunya atau tidak dengan stimulus itu," ucapnya.
Tiga hal ini, kata Ima, bisa menjadi bahan masukan bagi semua pihak, terutama Pemerintah Kota Kediri dalam mengatasi kasus kekerasan seksual terhadap anak.
"Bagaimanapun juga untuk dampak kekerasan seksual ini sangat membahayakan. Bahkan, ada korban yang sampai bunuh diri," sebutnya.
Dijelaskan Ima, berdasarkan pengalamannya dalam mendampingi korban kekerasan seksual, bahwa fakta tentang fenomena korban kekerasan seksual yang kemudian juga akan mencari korban baru lagi dikelak kemudian hari.
"Ada korban yang menikmati pelecehan seksual ini. Kemudian melakukannya pada orang lain. Bermula dadi dilecehkan, kemudian tidak ada yang mendampingi, dia balas dendam," ungkapnya.
Kasus kekerasan seksual dianggap juga memicu terjadinya perilaku LGBT, Ima pun mengaku pernah mendampingi korban kekerasan seksual yang kemudian balas dendam pada laki-laki dan beralih ke perempuan setelah merasa bosan.
"Maka perlu ada pemahaman tentang seksualitas dan dampak serta management seksual itu terjadi. Dampak yang paling menakutkan adalah bunuh diri dan melakukan dampak baru lagi," pungkasnya.
Kasus kekerasan seksual terhadap anak di Kota Kediri tahun ini cukup tinggi. Berdasarkan data Kantor Pengadilan Negeri Kota Kediri menyebutkan, sejak Januari-Agustus 2023 sudah ada 8 kasus kekerasan seksual yang masuk dalam persidangan. (uji/mar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




