Polisi saat berjaga di Desa Laden, Pamekasan, tempat Hanan Attaki mengisi kajian.
PAMEKASAN, BANGSAONLINE.com - Kajian yang diisi Hanan Attaki di Masjid Muttaqin, Desa Laden, Pamekasan, Minggu (12/2/2023) menuai kontroversi. Warga Pamekasan menolak kedatangan ustaz kelahiran Aceh itu.
"Kami minta pengajian ini dihentikan, kami bukan melarang acara pengajiannya, tapi kami menolak Ustad Hannan Attaki di Bumi Gerbang Salam," kata korlap aksi yang berdiri di atas mobil pikap menggunakan pengeras suara.
BACA JUGA:
- Dihadiri Mendikdasmen, Puluhan Siswa Pingsan Saat Senam Anak Indonesia Sehat di Pamekasan
- Dugaan Penipuan Umrah di Pamekasan Memanas, Korban Kini Digugat Balik Agensi
- Bupati Pamekasan Tiga Kali Tinjau SGMRP Demi Sukseskan Puncak Hardiknas Jatim 2026
- Jelang Iduladha, PLN ULP Pamekasan Perkuat Jaringan demi Cegah Gangguan Listrik
Suasana mencekam tampak di lokasi, dan petugas gabungan yang terdiri dari TNI-Polri terlihat berjaga untuk mengamankan situasi. Salah satu warga yang enggan disebutkan namanya mengaku khawatir.

"Waduh ini bahaya Mas, kalau sampek terjadi bentrok bisa-bisa warga Laden kena getahnya," ujarnya.
Sampai berita ini tayang, para pendemo tetap bertahan dan meminta pengajian dihentikan.
Seperti diberitakan BANGSAONLINE, sebelumnya Ketua PCNU Pamekasan, KH Taufik Hasyim sudah mengingatkan panitia untuk mempertimbangkan, bahkan memindahkan acara ke tempat lain.(
"Agenda ini membuat masyarakat setempat tidak nyaman. Pasalnya, ustaz kelahiran Banda Aceh ini sempat ditolak di Jawa Timur, seperti: Gresik, Jember, Sumenep dan di beberapa daerah lainnya," ujarnya, Sabtu (11/2/2023).
"Kami harap panitia bisa tahu diri dan tidak memaksakan kehadiran ustaz ini (Hanan Attaki). Melihat perkembangan di masyarakat, khususnya masyarakat Desa Laden, setelah saya menerima laporan dari tokoh di sana,” imbuhnya.
Ia bahkan mengaku khawatir dengan dampak acara tersebut jika tetap digelar. Pihak berwajib pun diminta untuk segera bertindak.
Namun tampaknya panitia tak menggubris peringatan ketua PCNU Pamekasan itu. Buktinya, kajian Hanan Attaki itu tetap digelar. (dim/sis)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




