KH. Idrus Ramli
Dari sini lah para ulama mengembangkan syair khusus yang selain berisi dzikir juga berisi puji-pujian kepada para sahabat Nabi, termasuk Sayyidina Ali dan Fatimah binti Rasul.
“Astaghfirullah robbal baroya. Astaghfirullah minal khothoya. Robbi zidni ilman nafi’a. Wawafiqni amalan sholiha. Ya Allahu ya Muhammad ya Aba Bakar ya Shiddiq, ya Umar Usmanu Ali, Siti Fatimah binti Rosuli.”
Syair ini sekaligus merupakan penegasan bahwa ulama Nusantara berhadapan dengan Wahabi dan Syiah sekaligus.
“Saya berkeliling dari Sabang sampai Merauke, dzikir dan puji-pujian seperti ini ada di masjid-masjid dan musholla,” katanya. Ia mengajak para jamaah berdzikir. Ia pun memulai dan semua pun larut dalam dzikir.
Apa kunci sukses penyebaran Islam di Indonesia? Tidak lain karena para penyebar Islam sangat menghargai tradisi Islam. Menurut Idrus Ramli, tradisi yang baik menjadi salah satu sumber hukum Islam. Beberapa ibadah umat Islam yang diajarkan Nabi juga merupakan peninggalan dari agama Yahudi dan orang-orang zaman jahiliyah.
Demikilanlah juga yang dijalankan oleh para penyebar Islam di Indonesia. Berbagai tradisi yang dijalankan oleh penduduk Nusantara seperti upacara kehamilan, kelahiran, dan kematian diislamisasi sedemikian rupa oleh para penyebar Islam di Indonesia.
“Tradisi yang sudah dijalankan itu diislamisasi. Dulu kalau ada orang meninggal, para tetangga berkumpul di rumah duka. Mereka makan-makan, ada yang sambil minum-minum dan bermain judi. Kemudian oleh para ulama kita kumpul-kumpul ini diisi dengan berdzikir dan berdoa,” katanya.
Jika tradisi yang berlaku itu tidak bisa diislamisasi, maka yang dilakukan para ulama adalah meminimalkan mudaratnya. Ia mencontohkan tradisi buang kepala kerbau atau sapi untuk menghindari bencana gunung merapi. Menurut Ustadz Idrus, orang-orang dulu membuang gadis untuk menolak bencana.
“Oleh ulama kita, upacara membuang gadis ini diganti dengan membuang kepala kerbau. Lagi pula di negara-negara tetangga kepala kerbau tidak dimakan, hanya di Indonesia saja semua dimakan, karena kita ini memang kreatif,” katanya.
Semua tradisi baik yang sudah diislamisasi itu juga mempunyai dasar legitimasi dari Al-Qur’an dan Hadits atau dari para Sahabat Nabi. “Jika ada yang tidak tahu dasarnya berarti ngaji dia belum sampai ke situ,” katanya. (tim/nuo)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




