CDK Wilayah Sumenep saat mengadakan kegiatan Ekspedisi Abboti di Pulau Masakambing.
PAMEKASAN, BANGSAONLINE.com - Cabang Dinas Kehutanan (CDK) Wilayah Sumenep mengadakan Ekspedisi Abboti di Kawasan Ekosistem Esensial (KEE). Kegiatan ini berlangsung di Pulau Masakambing, Kecamatan Masalumbu, Kabupaten Sumenep, selama delapan hari.
Tim ini merupakan kolaborasi dari CDK Wilayah Sumenep dan BBKSDA Wil IV Jawa Timur yang mempunyai misi konservasi pengelolaan populasi dan habitat, yaitu upaya pelestarian burung kakak tua melalui kegiatan penghitungan populasi, peningkatan kualitas, dan kuantitas keanekaragaman tegakan, sebagai daya dukung kehidupan serta kegiatan pemberdayaan masyarakat melalui Pembinaan Kelompok Tani Hutan dan Pembentukan PKSM di Pulau Masakambing.
BACA JUGA:
- Asyik! Gubernur Khofifah Bakal Gelar Program Mudik Gratis 2026, Ini Link Pendaftarannya
- Mensos RI Apresiasi Kolaborasi Pemprov Jatim dengan BPS dalam Penggunaan DTSEN
- Didukung Beragam Fitur Canggih, Trans Jatim Dapat Penghargaan Inovasi Membangun Negeri 2025
- Khofifah Undang 7 Keluarga Korban Kebakaran, Beri Santunan hingga Ganti Uang yang Hangus Terbakar
Kepala CDK Wilayah Sumenep sekaligus sebagai Sekretaris Pengelola KEE Pulau Masakambing, Samsul Muarief, menekankan bahwa pelestarian burung kakak tua yang diikuti dengan program pemberdayaan masyarakat di Pulau Masakambing merupakan amanah langsung dari Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.
"CDK Wilayah Sumenep merupakan salah satu instansi yang mengawali dan melaksanakan program pengelolaan KEE tersebut, wajib diikuti oleh OPD-OPD lain agar segera terjun langsung menyampaikan programnya masing-masing di Pulau Masakambing," ujarnya kepada BANGSAONLINE.com, Selasa (24/5/2022).
Berdasarkan hasil pengamatan jumlah populasi burung kakak tua, Sumpena selaku Kasi Konservasi Wil IV BBKSDA menyebut ada 26 ekor burung kakak tua kecil jambul kuning yang sampai saati ini masih ada di Pulau Masakambing, terdapat 5 pohon sarang (3 pohon randu dan 2 di mangrove) serta 4 pohon tidur (pohon kelapa).
"Dalam ekspedisi KEE Pulau Masakambing kali ini setiap kegiatan selalu melibatkan berbagai unsur masyarakat seperti pokdarwis, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat dan beberapa pemuda peduli lingkungan yang ada di masyarakat setempat," kata Sumpena.
Mengingat masyarakat lokal sebagai pemegang kendali kepemilikan mayoritas area habitat burung kakak tua, strategi konservasi berbasis masyarakat atau Community-Based Conservation (CBC) menjadi pertimbangan yang selain bertujuan agar burung kakak tua tetap hidup lestari dan dimaksudkan agar masyarakat mendapatkan manfaat dari segi ekonomi melalui optimalisasi potensi sumber daya alam di sekitarnya.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




