Tradisi Kupatan, Sejarah, dan Asal Usulnya

Tradisi Kupatan, Sejarah, dan Asal Usulnya Abdullah, salah satu pedagang ketupat di Pasar Gurah saat melayani pembeli. foto: MUJI HARJITA/ BANGSAONLINE

KEDIRI, BANGSAONLINE.com - Konon, lebaran kupat atau ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga. Saat itu, beliau memperkenalkan dua istilah Bakda kepada masyarakat Jawa, Bakda Lebaran dan Bakda Kupat.

Bakda Lebaran dipahami dengan prosesi pelaksanaan Salat Ied 1 Syawal hingga tradisi saling kunjung dan memaafkan sesama muslim. Sedangkan Bakda Kupat dimulai seminggu sesudah lebaran.

Ternyata tradisi tersebut hingga kini masih dijalankannya oleh masyarakat. Bahkan sejak H+2 lebaran, di sejumlah pasar Kabupaten Kediri dan Kota Kediri, sudah ada yang mulai menjual kupat. Kupat atau ketupat yang dijual ada yang sudah jadi, maupun yang masih berbentuk janur kuning.

Abdullah, warga Desa Turus, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri, termasuk pedagang yang memanfaatkan momen lebaran kupat ini untuk mengais rezeki dengan berjualan janur maupun kupat yang sudah jadi, di Pasar Gurah.

Ditemui saat menjajakan kupatnya di Pasar Gurah, Abdullah yang ditemani istrinya mengaku menjual kupat yang sudah jadi dengan harga Rp. 8 ribu per 10 biji. Sedangkan bagi pembeli yang ingin membeli janur, dihargai Rp.7 ribu per 10 daun.

"Saya mendapatkan janur (bahan membuat kupat) dari Pasar Grosir Ngronggo, Kota Kediri. Waktu masih banyak pohon kelapa, biasanya saya membeli langsung dari pemilik pohon kelapa," kata Abdullah sambil merangkai janur menjadi kupat, Selasa (18/5).

Selain Abdullah, di Pasar Gurah juga ada beberapa pedagang yang khusus menjual janur bahan kupat dan kupat yang sudah jadi. Selain kupat, juga dijual lepet yang bentuk bulat lonjong. Kalau kupat diisi beras, sedangkan lepet diisi beras ketan.

Untuk melengkapi sajian, biasanya masyarakat menambahkan lontong yang terbuat dari beras dan dibungkus dengan daun pisang.