Dewas RRI Butuh Figur Muda Profesional dengan Visi Kebangsaan yang Kuat

Dewas RRI Butuh Figur Muda Profesional dengan Visi Kebangsaan yang Kuat Dr. Muhamad Syauqillah, Ketua Prodi Studi Kajian Terorisme UI. foto: istimewa

JAKARTA, BANGSAONLINE.com - Seleksi Dewan Pengawas (Dewas) Radio Republik Indonesia () saat ini sudah melewati beberapa tahapan. Dari proses awal ada 672 orang yang mendaftar, kemudian lolos seleksi administrasi sebanyak 184.

Dari 184, setelah mengikuti tahapan seleksi saat ini tersisa 45 orang calon. Dari jumlah tersebut nantinya akan diambil 15 orang untuk kemudian diserahkan ke Komisi I DPR RI.

Menurut Muhamad Syauqillah, Ketua Prodi Studi Kajian Terorisme UI, Dewas membutuhkan tokoh muda yang memiliki visi Kebangsaan dan juga profesional. Itu sebagai upaya memanfaatkan menjadi media penyiaran yang mampu melahirkan konten-konten kreatif dalam rangka mengampanyekan semangat kebangsaan, semangat kebinekaan.

Dalam era saat ini, kata Syaqillah, paling tidak ada tiga hal yang harus menjadi perhatian sebagai lembaga penyiaran milik pemerintah, terutama dalam penyajian konten-konten yang mampu meningkatkan jiwa Kebangsaan dan Kebinekaan. Pertama, harus menjadi jangkar dan jaring pengaman kokohnya kedaulatan NKRI. harus menjangkau wilayah perbatasan dan pulau-pulau terluar Indonesia, untuk menghadirkan negara bagi masyarakat di sana.

"Nah, konten penyiaran yang dapat disajikan adalah berkaitan dengan penanaman nilai-nilai kebangsaan, merangkul mereka sebagai sesama anak bangsa untuk cinta," terang Syauqillah lewat keterangan tertulisnya, Kamis (17/12/20).

Kemudian kedua-lanjut Syauqillah, untuk masyarakat perkotaan, harus berhadapan dengan ancaman ideologi dan budaya yang selama ini menggerogoti ideologi Pancasila dan keluhuran budaya bangsa (kontra narasi dan kontra ideologi). 

Melalui strategi pengemasan konten, dapat memformulasikan konten-konten pilar kebangsaan (Pancasila, UUD’45, NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika) dalam sajian kekinian dan membumi, sehingga dapat meningkatkan resiliensi dan imunitas masyarakat (terutama generasi milenial) dari paparan intoleransi, radikalisme, terorisme, termasuk fenomena politik identitas dan populisme yang saat ini menguat.

Klik Berita Selanjutnya

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO