FOTO BARENG: Cabup BHS bersama para petani di Desa Bendotretek, Prambon, Rabu (11/11). foto: MUSTAIN/ BANGSAONLINE
Untuk mengangkat harkat dan regenerasi para petani, BHS menyatakan menyiapkan program "Petani Mengajar". Program ini bentuknya, para petani akan menularkan keahlian dan pengalamannya kepada para siswa, mulai kelas 5 dan 6 SD, siswa SMP dan siswa kelas 1 SMA.
Program itu diharapkan bisa mencetak generasi muda yang mau menggeluti bidang pertanian. "Sekarang ini regenerasi petani di Sidoarjo sudah tidak ada. Sudah putus. Ini akan kita kembalikan lagi," tegas alumni ITS Surabaya ini.
Sebelumnya, saat bertemu petani di Desa Jatikalang Kecamatan Krian, Kamis (5/11) lalu, BHS mengakui permasalahan yang dihadapi petani di Sidoarjo, hampir sama dengan petani lainnya. Yakni soal irigasi, pupuk, hama dan penjualan hasil panen.
Diketahui, saat panen, petani kerap kesulitan menjual padi. Sehingga mau tidak mau, hasil panen dijual ke tengkulak dengan harga murah. "Mesti ada upaya agar hasil pertanian dari Sidoarjo juga dikonsumsi warga Sidoarjo. Karena itu, khittoh Sidoarjo sebagai wilayah pertanian akan kita kembalikan," ungkap BHS saat berdialog dengan petani Jatikalang, Krian.
Sementara itu, salah satu petani Bendotretek yang juga pengurus Gapoktan setempat, berharap BHS bisa membantu para petani mendapatkan pupuk saat masa tanam padi dalam beberapa hari. "Kami berharap pak BHS memberi perhatian masalah pupuk ini," ungkapnya.
Para petani Bendotretek berharap BHS nantinya juga membenahi saluran tersier untuk mengairi sawah-sawah milik para petani. "Kalau sekarang ini, kami sudah mengasuransikan tanaman agar kalau gagal panen tidak rugi. Alhamdulillah kalau nanti pak BHS bakal memberi subsidi untuk asuransi pertanian," tandas petani ini. (sta/ian)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




