Warga Kroman dan Kemuteran Gresik saat menggelar demo di DPRD Gresik. (foto: SYUHUD/ BANGSAONLINE)
GRESIK, BANGSAONLINE.com - Ratusan Warga Kelurahan Lumpur, Kroman, dan Kemuteran Kecamatan Gresik kembali menggelar aksi demo di Gedung DPRD Gresik, Selasa (18/8/2020).
Mereka memprotes PT Gresik Jasatama (GJT) yang kembali melakukan bongkar muat batu bara di Pelabuhan Gresik setelah vakum sejak bulan November 2019 atau sekitar 10 bulan setelah dihentikan oleh DPRD Gresik.
BACA JUGA:
- Perahu Pengangkut Besi Tua Tenggelam di Perairan Pelabuhan Gresik, Satu Tewas Dua Hilang
- Disebut Hindari Bayar THR, PT KAS Klarifikasi soal Ratusan Buruh Mie Sedaap yang Dirumahkan
- Ratusan Buruh Mie Sedaap di Gresik Dirumahkan Jelang Ramadan, Ini Respons Komisi IV DPRD
- Mesin Blower Pabrik Minyak Goreng di Kawasan Maspion Gresik Terbakar
GJT kembali melakukan bongkar muat batu bara terhitung sejak 12 Agustus 2020 lalu, sehingga menuai protes keras dari warga tiga kelurahan, yakni Kelurahan Lumpur, Kroman, dan Kemuteran.
Dalam aksinya, pendemo membentangkan banner berukuran panjang. Mereka juga membawa sejumlah spanduk dan poster dengan berbagai tulisan. Di antaranya, "Debu Batu Bara Mematikan Warga Lumpur, Kemuteran, dan Kroman", "Kami Ingin Sehat", "Kami Ingin Anak Cucu Sehat", dan lain sebagainya.
Selain itu, mereka juga membawa seni tradisional pencak macan. Aksi demo warga kali ini banyak didominasi oleh ibu-ibu dan anak-anak.
Titik Parwati Hesti, Warga Kemuteran mengungkapkan, aksi demo yang dilakukan oleh warga Lumpur, Kroman, dan Kemuteran sama dengan demo sebelumnya.
"Kami demo menolak kembali beroperasinya bongkar batu bara di Gresik Jasatama, karena debu mengganggu kesehatan dan lingkungan kami," ujarnya kepada BANGSAONLINE.com, Selasa (18/8/2020).
Ditambahkan Hesti, bahwa keberadaan debu batu bara dari bongkar muat di GJT selama beroperasi sebelum dihentikan DPRD Gresik pada 25 November 2019, sangat mengganggu warga.
Sebab, debu selain mencemari lingkungan, rumah warga, juga telah mengganggu kesehatan masyarakat sekitar. "Jujur setelah hampir 10 bulan Jasatama off bongkar batu bara, warga bisa lega, sebab bisa menghirup udara segar. Namun, setelah Jasatama kembali bongkar, kami menjadi terganggu kembali ketenangan kami," pungkasnya. (hud/zar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




