Rabu, 22 Januari 2020 05:45

Tafsir Al-Isra' 58: Sebelum Kiamat, Semua Dihancurkan Lebih Dahulu

Senin, 19 Agustus 2019 01:09 WIB
Editor: Redaksi
Tafsir Al-Isra
Ilustrasi

Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag

58. wa-in min qaryatin illaa nahnu muhlikuuhaa qabla yawmi alqiyaamati aw mu’adzdzibuuhaa ‘adzaaban syadiidan kaana dzaalika fii alkitaabi masthuuraan

Dan tidak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari Kiamat atau Kami siksa (penduduknya) dengan siksa yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Lauh Mahfuzh).

TAFSIR AKTUAL

Ayat-ayat sebelumnya bertutur soal keimanan, kenabian, dan rahmat Tuhan. Kini membahas kondisi riil pra hari akhir, hari kiamat. Tuhan sudah memutuskan akan menghancurkan terlebih dahulu desa-desa yang ada di bumi ini, semuanya. Tidak satu pun ada bangunan baik di kota maupun di desa yang tetap kokoh bertengger. Itu pasti terjadi demi mulusnya acara prosesi hari kiamat nanti.

Apa maksud kata "muhlikuha" (penghancuran), apa itu azab atau kematian alami?

Umumnya mufassirin memaknai, bahwa ihlak (penghancuran, perusakan) itu pasti. Tapi pelaksanaan dan motifnya beda. Caranya-pun beda, sesuai kehendak Allah SWT sendiri. Tapi dari pembacaan beberapa firman-Nya, dapatlah disarikan demikian, yakni:

Jika umat manusia itu pada durhaka, zalim, dan mengumbar maksiat sepuas-puasnya tanpa risih, maka Tuhan turun tangan dengan cara mengazab, menghancurkan perkampungan tersebut seperti kaum-kaum terdahulu. Ada yang ditumpas tsunami, ditelan longsor, disapu badai, dan lain-lain.

Jika umat manusia dalam perkampungan itu shalih dan tekun beribadah, tidak zalim, dan beramal sosial, maka dimatikan secara wajar, alami seperti kematian biasa. Baru bangunannya dihancurkan menurut kehendak-Nya. Pemikiran ini berdasar pernyataan Tuhan sendiri, bahwa Allah tidak akan mengahancurkan, mengazab umat manusia yang berbuat kebajikan. Tuhan hanya menghancurkan mereka yang berbuat zalim saja. (Hud:117 dan al-Qasas:59).

Dari pernyataan Tuhan ini, sepantasnya kita cerdas dalam membaca bencana alam. Itu sah-saja dan sangat bagus bila dikaitkan dengan kedurhakaan umat, kemaksiatan, dan kezaliman manusia di daerah bencana tersebut. Itulah pembacaan keimanan. Itulah pembacaan kesadaran. Hamba yang merasa berdosa jauh lebih mulia di sisi-Nya daripada yang merasa baik.

Cuma, tradisi kita sok kemanusiaan, sok tepo seliro, sok menjaga perasaan sesama sehingga menafikan sisi keagamaan, ketaqwaan. Kita akan dikutuk sebagai mansuia yang tidak etis, tidak elok, tidak beradab jika kita mengajak kembali ke Allah dengan mengoreksi diri atas dosa-dosa kita ketika bencana menimpa.

Kita dianggap sok suci, menyalahkan orang lain yang tertimpa bencana sebagai orang banyak dosa dan berbuat zalim. Walau al-qur'an benar, tetapi kita kalah dengan kutukan itu. Bahkan mereka membalik "coba rasakan sendiri, jika anda atau keluarga anda yang terkena musibah seperti tergilas tsunami, lalu ada orang yang mengatakan bahwa itu karena dosa-dosa anda sendiri. Bagaimana perasaan anda?".

Jawabannya, tinggal kesiapan mental dan keimanan masing-masing. Mereka yang beriman kokoh dan bersih, pasti merasa berdosa dan menerimanya sebagai ujian dari Tuhan, lalu bersabar, istighfar, dan berupaya makin shalih. Tuhan tidak pernah manzalimi hamba-Nya. Mereka yakin, pasti ada hikmah di balik itu semua. Hidup ke depan lebih cerah dan optimis, penuh berserah diri. Sementara yang tidak beriman, mesti kecewa dan mengumpat-umpat. Meski mencak-mencak dan misuh-misuh, lalu mau apa? Malah sumpek dan stress.

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Senin, 20 Januari 2020 10:16 WIB
KOTA BATU, BANGSAONLINE.com - Lembah Songgoriti, Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu, Kota Batu tidak hanya menyimpan potensi wisata pemandian air panasnya yang sangat terkenal itu.Satu aset wisata terpendam Kota Batu yang belum tergali adal...
Senin, 13 Januari 2020 16:17 WIB
Oleh: M Mas’ud AdnanKHM Yusuf Hasyim wafat pada 14 Januari 2007. Putra Hadratussyaikh KHM Hasyim Asy'ari itu selain dikenal sebagai tokoh NU dan komandan Laskar Hizbullah juga pengasuh Pesantren Tebuireng selama 41 tahun (1965-2006). Untuk mengenan...
Senin, 20 Januari 2020 14:29 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*79. Wamina allayli fatahajjad bihi naafilatan laka ‘asaa an yab’atsaka rabbuka maqaaman mahmuudaanDan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan...
Selasa, 21 Januari 2020 13:25 WIB
>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, MA. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<&...