Hampir 95% Impor dari Tiongkok, Gubernur Khofifah dan MUI Jatim Gencarkan Tanam Bawang Putih

Hampir 95% Impor dari Tiongkok, Gubernur Khofifah dan MUI Jatim Gencarkan Tanam Bawang Putih Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Paarawansa dan Ketua MUI Jawa Timur KH Abd Shomad Buchori (kanan) secara simbolik memegang bawang putih pada panen perdana Desa Sempol Kecamatan Ijen Kabupaten Bondowoso, Sabtu (3/8/2019). foto: istimewa

"Hari ini sedang ada calon investor yang akan berinvestasi di sektor hortikultura, mereka sudah keliling Jawa Timur tiga hari ini, saya sudah WA beliau dan mengirimkan foto-foto lokal kita," kata Khofifah.

Meski kurang bisa bersaing lantaran ukurannya yang masih terlalu kecil, Khofifah mengatakan bahwa jenis ini masih akan laku jika dijual untuk bahan obat-obatan. Atau paling tidak mencukupi kebutuhan lokal.

Ia mengaku menugasi langsung pejabat Pemprov Jawa Timur untuk membawakan ini pada calon investor tersebut. Dengan begitu ia berharap akan ada teknologi pertanian yang diterapkan untuk peningkatan kualitas lokal Jawa Timur.

"Bibit, teknologi, pendampingan. Tiga hal ini harus ada dalam mengintervensi sektor pertanian kita. Bibitnya kita siapkan, teknologinya kita bantu, dan pendampingannya kita lakukan," ucap Khofifah.

Jika inisiasi penanaman lokal ini diintroduksi dengan baik, penyediaan lahan juga mencukupi. Menurut mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan ini, LMDH di sekitar Ijen akan mendapatkan ruang percepatan penyejahteraan ekonomi.

Sementara itu Ketua Pinbas - Jawa Timur Wahid Wahyudi mengatakan panen perdana ini adalah hasil budidaya Pinbas- Jawa Timur. Ini adalah bukti nyata bahwa kini bukan hanya berurusan dengan fatwa dan akhlaq. Melainkan juga mengembangkan sayap di sektor ekonomi riil.

"Kebutuhan bawang putih Jawa Timur per tahun sekitar 56.580. sedangkan kemampuan produksi bawang putih Jawa Timur hanya 3.040 ton saja. Sehingga 94.4 persennya diimpor dari luar negeri, terbanyak dari Tiongkok," tegas Wahid.

Bawang putih impor secara fisik butirannya lebih besar. Dan harganya lebih murah, senilai Rp 22 ribu perkilogramnya. Sedangkan lokal dengan kualitas yang diketahui, harganya Rp 50 ribu perkilogramnya.

"Dari segi bisnis memang kalah. Tapi sekarang ada kewajiban bagi pengimpor untuk menanam 5 persen dari jumlah yang diimpor," katanya.

Untuk itu, kata pria yang juga Asisten II Setdaprov Jawa Timur itu, dari 41 hektar yang ditanami 12 hektar diantaranya belum panen. Luasan 12 hektar tersebut sengaja dipanen terlambat untuk dikembangkan sebagai bibit baru. (tim)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO