Minggu, 26 Mei 2019 11:13

Tafsir Al-Isra' 24: Celaka, Punya Orang Tua Tak Bisa Masuk Surga

Sabtu, 16 Februari 2019 11:20 WIB
Editor: Nur Syaifudin
Wartawan: .
Tafsir Al-Isra
Ilustrasi.

Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag

Al-Isra': 24

وَاخْفِضْلَهُمَاجَنَاحَالذُّلِّمِنَالرَّحْمَةِوَقُلْرَّبِّارْحَمْهُمَاكَمَارَبَّيٰنِيْصَغِيْرًاۗ

Waikhfidh lahumaa janaaha aldzdzulli mina alrrahmati waqul rabbi irhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraan

Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.”

TAFSIR AKTUAL:

"imma yablughann 'indak al-kibar ahaduhuma aw kilahuma". Dikaitkan antara berbakti kepada orang tua dengan usia lanjut. Ada apa? Ya, sebab pada umumnya, orang tua itu makin berusia, makin bermasalah. Mudah tersinggung, sering lupa, tapi ngotot dan maunya bener terus. Segala yang dikehendaki adalah mutlak tanpa mau ditawar.

Sedikit saja sabdanya kurang dipatuhi, sang anak sudah divonis sebagai anak membantah, melawan, dan sebagainya. Tapi tidak semua begitu. Nah, pada taraf usia lanjut yang sangat bawel dan pelupa itulah, Allah SWT meletakkan surga melekat pada dirinya. Surga diletakkan di bawah telapak kaki ibu. Baru saja makan, ngomong, katanya sejak tadi belum dikasih makan.

Ibu Penulis tinggal di Lamongan dan saya tinggal di Jombang. Ibu sakit dan kami segera nyambangi ke Lamongan untuk beberapa waktu. Lalu kesehatan ibu membaik dan kami pamit pulang. Beberapa hari dikabari, bahwa ibu sakit lagi dan kami segera datang. Kedatangan kami tidak disambut ceria seperti biasanya, melainkan dengan murung dan diam.

Tentu kami sangat gelisah, "salahku opo". Tapi hanya membatin dan tidak berani menanyakan. Akhirnya adik yang mendekati ibu untuk klarifikasi. Katanya, ibu sangat kecewa karena ketika sakit kemarin kami tidak datang nyambangi. Tapi masalah ini cepat cair setelah adik menjelaskan. Tentu kami sangat lega dan bisa bercengkerama kembali dengan ibu, meski di ranjang rumah sakit. Ibu, ibu, dan ibu. Moga Allah mengampuni.

Abu Hurairah R.A. meriwayatkan: "Bahwa, suatu hari tiba-tiba Rasulullah SAW bersabda: "Celaka, celaka, dan sungguh celaka..". Sahabat bertanya: "Siapa yang engkau maksud ya Rasulallah?". Rasul menjawab: "...orang yang masih punya orang tua, keduanya atau salah satunya, tapi dia tidak bisa masuk surga karena mereka".

Ahli Hadis menterjemah Hadis ini dengan, seorang anak yang tidak berbakti kepada orang tua saat masih hidup. Artinya, pahala berbakti itu sangat besar hingga bisa mengantarkan si anak masuk surga. Jika itu disia-siakan, maka dia harus berurusan dengan amalnya sendiri yang terbatas. Berbahagialah anda yang ketunggon orang tua. Punya orang tua, sehingga punya kesempatan besar untuk masuk surga lantaran mereka.

Seorang sahabat punya ibu tua dan dia merawatnya begitu rajin dan sangat bagus. Apa saja yang diinginkan sang ibu pasti dituruti sebisa mungkin. Dari memandikan, memakaikan pakaian, sampai menyuapi kayak bayi. Sering kali sang ibu minta dipandu jalan-jalan dan sang anak dengan tulus menggendongnya.

Sahabat itu merasa sudah paling hebat soal berbakti kepada orang tua, lalu sowan kehadirat Nabi Muhammad SAW. Dengan bangganya sahabat itu bercerita mengenai apa yang sudah dia lakukan buat sang ibu. Rasul mulia itu menanggapi dingin dan balik bertanya: "Ya, bagus, bagus. Tapi bagaimana perasaanmu saat kamu merawat ibumu, apakah hati kamu senang dan berharap ke depan keadaan ibumu makin bagus..?".

Lalu sahabat itu terdiam merunduk. Nah, di sinilah bedanya. Sehebat apapun, semulia apapun anak merawat orang tuanya, dalam hati anak pasti mengerti, bahwa perawatan tersebut ada batas akhir, yakni kematian, walau tidak diucapkan. Kecuali anak brengsek, lalu mengguman, "kok gak mati-mati sih.". Na'udzu billah min dzalik.

Tapi kalau ibu merawat anaknya yang sakit, ibu sangat ikhlas dan berdoa untuk kebaikan anaknya ke depan. Bahkan berikrar ingin menggantikan, lebih baik dirinya yang sakit dari pada anaknya. Moga Allah membahagiakan kedua orang tua kita, utamanya di akhirat nanti. Allahu a’lam.

Bandeng Jelak Khas Kota Pasuruan yang Tinggi Protein, Yuk Makan Ikan!
Minggu, 28 April 2019 01:01 WIB
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Kali ini Shania Indira Putri, Duta Gemarikan Kota Pasuruan, melihat lebih dekat bagaimana proses pemanenan ikan Bandeng Jelak khas Kota Pasuruan. Sekali panen, ikan ini air tawar ini bisa menghasilkan 600 hingga 120...
Selasa, 26 Maret 2019 21:54 WIB
MADIUN, BANGSAONLINE.com - KAI Daop 7 ajak beberapa wartawan wilayah Madiun, mulai dari wartawan cetak, online, dan televisi, ke tempat bangunan bersejarah Lawang Sewu dan Stasiun Ambarawa, Selasa (26/3). Kegiatan ini dilakukan selama dua hari (25-26...
Suparto Wijoyo
Rabu, 22 Mei 2019 11:24 WIB
Oleh: Suparto Wijoyo*SAYA menyaksikan penuh kagum terhadap para kompetitor yang menyorong sekehendaknya. Dengan nyaman menikmati gelisah rakyat yang sangat mayoritas. Para promotor pertandingan tergiring dalam alun langkahnya dengan kosa laku yang...
Sabtu, 18 Mei 2019 12:13 WIB
Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag
Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag41. Walaqad sharrafnaa fii haadzaa alqur-aani liyadzdzakkaruu wamaa yaziiduhum illaa nufuuraanDan sungguh, dalam Al-Qur'an ini telah Kami (jelaskan) berulang-ulang (peringatan), agar mereka selalu ingat. Tetapi (p...
Dr. KH. Imam Ghazali Said
Jumat, 17 Mei 2019 16:44 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<...