Tafsir Al-Isra 8: Menyanyikan Lagu Indonesia Raya saat Wukuf di Arafah

Tafsir Al-Isra 8: Menyanyikan Lagu Indonesia Raya saat Wukuf di Arafah Ilustrasi

Pertama, apa yang dilakukan oleh sebagian wong NU dengan nyanyi Ya Lal Wathon di Mas'a tersebut sangat mungkin hasil dari serapan pemikiran mereka yang berlangsung sekian lama terhadap bablasnya sebagian pemikiran dan sikap kiai NU, tokoh, ilmuwan yang sok kontekstual, sok nusantara, sok rahmatan lil alamin, sok toleran. Hiingga kesan serba boleh mewarnai pemikiran.

Namanya awam, mereka menelan mentah-mentah dan mengembangkan dengan gayanya sendiri -meniru panutannya- tanpa pertimbangan ilmu dan tata etik. Mereka merasa bahwa berkreasi dan menyelipkan hal baru itu bebas-bebas saja asal tidak nabrak syari'ah dan tidak pula mengarah ke dosa atau kekafiran nyata.

Kedua, nyatanya ada kiai atau ustadz sekelas pemandu jamaah umrah yang ngeminter dan belum faham betul kehormatan al-masjid al-haram, kehormatan ibadah sa'iy, antara bukit Shafa dan Marwah. Oknum zalim ini menganggap al-mas'a sebagai tempat biasa yang bebas menyuarakan apa saja yang diingini.

Ketiga, kemungkinan pelantun itu tidak mengerti maknanya mars NU Ya Lal Wathon. Lalu menganggap mars tersebut adalah setara dengan dzikir, istighfar atau tasbih. pokok-e coro arab, ada iman-iman-nya, beres. Dan orang itu dikiaikan atau diustadzkan di kalangan warga NU dengan bukti dipercaya memimpin rombongan, tanpa teguran dari jamaah lain. Ini PR yang perlu kita cari jalan baiknya.

Ketiga, mungkin ini peringatan Allah SWT bagi kiai, gus dan ustadz yang terlalu memburu keuntungan duniawi di balik bisnis travel umrah. Ternyata ada kebablasan demi memuaskan jamaah atau meng-elit-kan pamor travel. Kita berbenah diri dan lebih memurnikan sisi ibadahnya.

Keempat, sesuai pesan ayat kaji ini, agar jangan mengulang kesalahan yang sama, karena Tuhan bisa lebih marah. "wa in 'udtum, 'udna..". Maka ke depan jangan sampai ada ketua rombongan jamaah haji yang membuat sensasi dengan membaris jamaah ketika wukuf di Arafah, lalu menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Dosa besar sih tidak, tapi kok tolol buanget.

Sumber: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO