Selasa, 21 Agustus 2018 13:00

Sumamburat: Ekstasi Itu Bernama Jabatan

Rabu, 18 Juli 2018 16:49 WIB
Editor: Abdurrahman Ubaidah
Sumamburat: Ekstasi Itu Bernama Jabatan
Suparto Wijoyo

Oleh: Suparto Wijoyo*

KABAR pating semliwer memenuhi angkasa dan terhelat dalam belantara bumi nusantara. Para petinggi dan penglamun kekuasaan sedang merancang skenario untuk dapat bertahan, tidak hendak beringsut, tak rela bergeser, apalagi lengser. Bagi yang belum tahu nikmatnya kekuasaan terlihat sedang antri membawa form pendaftaran memperebutkan “karunia negara”.

KPU yang sejak tempo hari membuka pendaftaran untuk caleg sibuk mengundang parpol agar segera menempuh jalan demokrasi. Pilkada dirasa tidak cukup gebyar tanpa adanya pileg dan seperunggahan itu adalah pilpres. Hari-hari mendatang adalah saat dimana rakyat digelontor imaji dengan penuh solek yang menggoda.

Syahwat politik kentara sekali dipertontonkan dengan memajang “alat vital nafsu kewenangan” guna ngeloni kursi kekuasaan. Ternyata kekuasaan itu nikmat yang rasanya tidak dapat dilupakan oleh siapa yang sudah mengenyamnya. Untuk mereka yang belum pernah “berkeringat” mendesahkan kehendak untuk mendapatkan jabatan tentu tidak mengerti tingkat sensasi macam apa yang diperolehnya pemegang kekuasaan.

Kisahnya persis seperkiraan pemakai narkoba atau apalah namanya sebab saya sendiri tidak hendak untuk mencoba, termasuk dalam lamunan yang liar sekalipun. Seperti kata pepatah memang, jangan coba-coba menyentuh narkoba, karena ada risiko lanjutannya, sekali mencoba sulit untuk menghalau jejak ketagihan.

Memang selama ini sudah umum bahwa narkoba itu membuat ketagihan tentang rasa nikmat yang menggembirakan. Suasana ekstasi terpapar dengan langgam yang sangat meninabobokan jiwa-raga dalam merengkuh surga dunia. Ekstasi adalah situasi yang memberikan gambaran kenyamanan atas kondisi diri seseorang yang berkelambu ekstase,tanpa adanya daya kendali pada dirinya.

Ekstasi itu kegembiraan dan ekstase merupakan kenyamanan yang tidak terbayangkan sebelumnya. Dan demokrasi terlihat sedang memberikan perangkap yang menjebak pelakunyauntuk memasuki gerbangnya.

Demokrasi menyodorkan hadiah kekuasaan dengan segala kecakapan hukum maupun politik untuk mengatur setiap warga negara.

Demokrasi membuka ruang rejeki jabatan untuk didayagunakan memberikan imbalan kepada pemegang kedaulatan. Rakyat berkuasa menentukan pemimpinnya yang gandrung jabatan dengan seperangkat aksesorisnya.

Pada lingkup ini ternyata yang sudah masuk perangkap jabatan demokrasi itu selalu ingin mengulanginya kembali. Kekuasaan yang sedang melekat dipertahankan mati-matian sejak jauh-jauh hari dengan mencitrakan dirinya sebagai yang paling berkuasa tanpa pesaing. Untuk itu bila perlu regulasi dibikin agar siapa saja tidak mampu berhalusinasi untuk menjadi calon lawannya.

Kemudian yang terlihat adalah kerumunan orang-orang yang menyodorkan diri menjadi pendampingnya, cukup wakil yang dipermak untuk diperebutkan. Jabatan wakil ternyata sangat bergengsi. Ini adalah gelembung kekuasaan yang aneh bahwa jabatan digenggam seperti adonan yang memang membuat dirinya ketagihan.

Uniknya adalah mereka yang ketagihan jabatan itu tidak merasa dia sedang mempermalukan dirinya sendiri agar tahu diri. Bagaimana tidak, janji-janji yang dulu pernah diucapkan dengan percaya diri nyaris semua melesat dan membuyarkan hujan dusta di sana sini.

Mulai dari rupiah yang terpelanting dan hutang yang menjulang tinggi maupun harga-harga yang tidak murah lagi, tapi umat disuruh tetap enjoy dengan memuji tiada hentiwalaupun sudah sangat mumpuni gelar akademiknya.

Ya … semua hendak berebut “madu kekuasaan”. Tidak hanya yang muda atau setengah baya, yang lansia pun hendak turur menggelarkan kecakapan untuk bertarung dengan alasan yang sangat ideal. Ada pula yang merasa menjadi umara sekaligus ulama yang siap sedia berpisah dari rakyat yang selama ini mengelu-ngelukan demimenjadi pendamping sang tokoh yang sudah dikenalnya selama ini suka membentur-benturkan kahanan.

Memang suasana Pilpres 2019 menggelombangkan semangat juang yang pro status quo maupun yang kontra. Pun sorot mata ada yang telah menengok ke Malaysia yang baru saja menyelenggarakan Pemilu Raya Umum dengan kemenangan yang sudah diketahui dunia.

Dokter Mahathir Mohamad secara telak mengalahkan koalisi permanen yang diboyong Barisan Nasional, yang sudah mengangkangi Malaysia selama 61 tahun. Mahathir dalam usia 92 tahun ternyata mampu menjadi magnit sekaligus pendobrak “jumawahnya” kekuasaan yang mengandalkan donyo-brono.

Selama 22 tahun Tun Mahathir pernah menjabat sebagai PM, yang saat itu saya sendiri menikmati pemerintahannya dari kampung, di sekolah-sekolah desa, melalui TVRI yang sering memberitakan melalui acara Dunia dalam Berita. Tun Mahathir sungguh mempesona. Pembangunan di Malaysia moncer memercikkan kebanggaan bagi rakyatnya.

Tengok juga ke arah Turki dengan Erdogan yang perkasa. Tentu banyak tokoh di negeri ini yang iri, apalagi sekadar saya. Saya memiliki “keterhanyutan hati” terhadap Malaysia maupun Turki yang capaian kekuasaannya mengukirkan martabatbangsanya.

Dari sini kita dapat bersepakat bahwa semua punya pengharapan selaksa rakyat Malaysia dan Turki. Tentu bagi pribadi yang berjiwa sehat tanpa “narkoba politik” yang mengalami “ekstasi jabatan”.

*Dr H Suparto Wijoyo: Pengajar Hukum Lingkungan Fakultas Hukum, Koordinator Magister Sains Hukum dan Pembangunan Sekolah Pascasarjana Universitas Airlangga, Sekretaris Badan Pertimbangan Fakultas Hukum Universitas Airlangga serta Ketua Pusat Kajian Mitra Otonomi Daerah Fakultas Hukum Universitas Airlangga.

Sabtu, 11 Agustus 2018 16:43 WIB
Oleh: Ach. Taufiqil Aziz*Sekitar jam 17.00, pada 9 Agustus 2018, kami sekeluarga masih menonton stasiun televisi tentang pengumuman Cawapres Jokowi. Di televisi, beberapa stasiun dan pengamat sudah menganalisa bahwa Mahfud MD (MMD) yang akan menjadi ...
Kamis, 16 Agustus 2018 17:26 WIB
Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag. . .   In ahsantum ahsantum li-anfusikum wa-in asa'tum falahaa fa-idzaa jaa-a wa’du al-aakhirati liyasuu-uu wujuuhakum waliyadkhuluu almasjida kamaa dakhaluuhu awwala marratin waliyutabbiruu maa ‘al...
Dr. KH. Imam Ghazali Said
Sabtu, 18 Agustus 2018 10:03 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<...
Rabu, 08 Agustus 2018 10:41 WIB
TUBAN, BANGSAONLINE.com - Asosiasi Wisata Gua Indonesia (Astaga) dan Mahasiswa Pecinta Alam (Mahipal) Unirow Tuban akhirnya memaparkan data pemetaan gua di Desa Jadi, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Data tersebut dikeluarkan setelah tim me...