Aneh, yang bekerja resmi dan halal serta melengkapi diri dengan sekian syarat, jika di-PHK kadang susah mendapatkan uang pesangon.
Pelacur-pelacur sama sekali bukan korban ekonomi, sebab banyak perempuan yang lebih butuh uang dan lebih miskin ketimbang mereka, tetapi bisa hidup layak tanpa melacur.
Pelacur adalah korban dari nafsu syetan yang sengaja dikobar-kobarkan dalam diri sendiri.
Aneh, mengaku beragama Islam, rutin salat tapi membela mati-matian terhadap perzinaan. Kasus Dolly ini bukti sekaligus peringatan bagi ulama, kiai, ustadz bahwa keislaman sebagian penduduk negeri ini masih abal-abal.
Maka kerja dakwah yang lebih serius, esensial, mengena dan berkualitas sangat perlu ditingkatkan. Bukan dakwah guyonan dan ndagel yang merendahkan martabat keberagamaan.
China, setelah sukses menghukum mati para koruptor sehingga negeri tirai bambu itu maju dan pertumbuhan ekonominya membanggakan, juga menghukum mati para mucikari, utamanya yang mengomersilkan gadis-gadis usia sekolah sebagai pelacur. Tak ada ampun dalam hal ini.
Jika seorang pejabat ketahuan menziani cewek usia sekolah (SMA) pasti dihukum berat dan dipecat secara tidak hormat, termasuk mucikarinya, sedangkan si cewek wajib masuk rehabilitasi moral.
Mereka itu sama sekali bukan orang Islam dan secara formal tidak pula memberlakukan syariat Islam, tetapi hakikatnya sudah mengamalkan syariat Islam. Tapi di negeri ini ?
Semoga semua pihak mengerti maslahah kebijakan penutupan ini, para pelacur dan mucikari bertobat dan diberkahi rejeki halal yang melimpah.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




