Selasa, 11 Desember 2018 21:47

​GMBU, Pembangkit Rasa Sosial Mahasiswa Kota Surabaya

Minggu, 11 Maret 2018 23:03 WIB
Editor: Choirul
Wartawan: -
​GMBU, Pembangkit Rasa Sosial Mahasiswa Kota Surabaya
GMBU dalam sautu kegiatan. foto: istimewa

SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Garda Muda Bibit Unggul (GMBU)  Kota Surabaya merupakan organisasi kalangan mahasiswa Kota Surabaya yang fokus pada bidang sosial dan pendidikan. GMBU menjadi organisasi sosial yang turut serta membantu mengatasi masalah sosial dan pendidikan Kota Surabaya.

Kehadiran GMBU berawal dari kelompok mahasiswa yang mendapatkan beasiswa dari Pemkot Surabaya dengan program Mahasiswa Asuh. GMBU terbentuk di asrama villa kalijudan dan bersekretariat di daerah Wonocolo.

Ahmad Zaenuri sebagai ketua GMBU mengaku organisasi ini terbentuk atas rasa tanggung jawab dari yang diberikan Kota Surabaya dari program mahasiswa asuh. "Saat ini GMBU sudah melebarkan sayap, mempersilakan semua mahasiswa Kota Surabaya baik berkuliah di PTN maupun PTS untuk gabung di GMBU," terang Zaenuri kepada Bangsaonline.com.

Pada tahun 2014 GMBU didirikan dan sampai saat ini memiliki anggota 200 mahasiswa Kota Surabaya. GMBU ini merupakan organisasi kepemudaan yang telah terdaftar di Badan Kesatuan Pertahanan dan Politik. Organisasi ini memiliki dua program unggulan, posko penerimaan peserta didik baru dan wawasan kebangsaan.

PPDB merupakan program tahunan untuk bidang pendidikan. "Setiap tahun kita biasa menerima sampai 300 peserta didik untuk dibantu mendapatkan sekolah gratis, angka tersebut sebelum adanya perubahan peraturan bahwa sekolah gratis untuk sekolah menengah atas dialihkan ke provinsi," jelas Zaenuri.

Menurutnya, program ini sangat baik juga untuk para anggota karena belum tentu dapat didapatkan di bangku kuliah. Program ini memberikan jasa untuk membantu warga Surabaya menyekolahkan anaknya. Jasa yang diberikan oleh GMBU memanfaatkan Peraturan Wali Kota yang menyediakan kuota bersekolah gratis sebanyak 5 persen di setiap sekolah baik SMP maupun SMA.

Meskipun kota metropolitan, tidak semua warga Kota Surabaya dapat melek teknologi, karena penerimaan peserta didik baru melalui sistem online. Fasilitasi yang diberikan GMBU kepada calon penerima jasanya sampai mendapatkan sekolah dengan gratis. Sosialisasi yang dilakukan biasa melalui media cetak sampai radio.

"Sejak perubahan peraturan gubernur itu jumlah calon peserta didik yang kami bantu turun drastis sampai 80 anak saja," jelas Zaenuri.

Perubahan peraturan tersebut menghambat program yang dicanangkan oleh GMBU karena pada dasarnya Kota Surabaya sendiri sudah mampu memberikan sekolah gratis kepada warganya melalui dana APBD. Sampai sekarang GMBU masih mengaji kemungkinan yang dapat dilakukan untuk tetap menyekolahkan peserta didik baru di tingkat menengah atas.

Di bidang sosial, Wawasan Kebangsaan banyak mendapat tanggapan positif dari Karang Taruna dan Sekolah di Kota Surabaya. Wawasan yang diberikan melalui program ini berlandaskan empat pilar negara baik secara kognitif dan sikap sebagai warga Indonesia. Sebelum melakukan program ini, para anggota GMBU dibina dan dilatih untuk dapat memberikan materi dengan tepat.

"Pertama masuk di GMBU para anggota diberikan tantangan untuk langsung terjun di masyarakat, paling tidak memberikan wawasan kebangsaan kepada tetangga," tutur Zaenuri.

Program ini turut membantu para orang tua terhadap anak dan pemerintah kepada warganya dalam pembekalan dari pengaruh-pengaruh faham ekstremis yang tengah marak. "Apalagi saat ini merupakan zaman media sosial dan anak-anak lebih suka mengakses dunia maya daripada bertemu langsung, juga pengaruh terbesar melalui media sosial yang banyak dipakai anak-anak zaman sekarang." tambah Zaenuri.

Ahmad Zaenuri berharap dengan kehadiran GMBU dapat menjadi mitra kerja Kota Surabaya untuk melayani masyarakat yang membutuhkan bantuan di bidang sosial dan pendidikan. Selanjutnya, GMBU akan lebih melebarkan sayap untuk lebih dikenal masyarakat Kota Surabaya dengan program-program yang dapat membantu masyakarat. Baginya, sebagai mahasiswa asuh Kota Surabaya memiliki tanggung jawab yang tersirat, "paling tidak orang-orang terdekat kita baik tetangga maupun saudara kita, dapat bernasib sama dengan kita yang dapat bersekolah dan berkuliah". (*)

Sumber: *M Ainur Rofiiqi
Jumat, 07 Desember 2018 13:40 WIB
Oleh: Muchammad Toha*Terlalu pagi saya mendarat di Bandara Hang Nadim, karena untuk sampai di Batam tanpa transit di Bandara Soekarno Hatta Cengkareng Jakarta dapatnya pesawat pagi. Maka, cukup alasan hotel untuk tidak memberikan kamar pada saya. Bah...
Senin, 03 Desember 2018 14:30 WIB
Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag
Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag. . .  Waja’alnaa allayla waalnnahaara aayatayni famahawnaa aayata allayli waja’alnaa aayata alnnahaari mubshiratan litabtaghuu fadhlan min rabbikum walita’lamuu ‘adada alssiniina waalhisaaba wak...
Sabtu, 10 November 2018 10:00 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<...