Kamis, 23 November 2017 04:52

Menelusuri Goa Jepang dan Alas Puspo di Gunung Wilis, Menaklukan Dingin dan Medan yang Menantang

Selasa, 31 Oktober 2017 00:37 WIB
Wartawan: Arif Kurniawan
Menelusuri Goa Jepang dan Alas Puspo di Gunung Wilis, Menaklukan Dingin dan Medan yang Menantang
Goa Jepang yang diyakini sebagai persembunyian tentara Jepang saat zaman penjajahan.

KEDIRI, BANGSAONLINE.com - Sebuah goa yang diyakini tempat persembunyian tentara Jepang di zaman penjajahan, ditemukan di Gunung Wilis, Kediri. Tim ekspedisi yang dinamai `Tim Ekspedisi Kediri Lagi’, melakukan penelusuran, Minggu (29/10). Adalah Wakil Bupati Kediri, Drs H Masykuri MM yang memimpin tim tersebut. Pria 60 tahun itu, masih enerjik dengan tantangan alam yang berat. Seperti apa penelusuran tim yang beranggotakan 40 orang itu, inilah kisahnya.

--

Di tengah kabut tebal, rombongan Tim Ekspedisi Kediri Lagi melakukan penelusuran. Samar-samar, ada pemandangan sangat indah dan mempesona di kiri dan kanan. Bulan sabit tampak jelas menyelimuti malam yang dingin. Sebuah keagungan Tuhan di gunung yang menjulang tinggi.

Anggota tim, malam itu, kompak saling membantu. Ada yang mencari kayu bakar untuk api unggun karena cuaca malam, dengan suhu 5 derajat celsius. Pagi pukul 05.00 WIB, semua rombongan sudah bangun. Mereka ingin mengabadikan matahari terbit di ufuk timur. Sayang, kabut tebal, menjadi penghalang indahnya sunrise.

Tim ekspedisi pun, memutuskan melihat goa Jepang. Tempatnya, tidak jauh dari mereka beristirahat. Hanya turun sekitar 500 meter di bawah tempat bermalam mereka.

“Saat itu, kami berada di ketinggian 1.769 meter di atas permukaan laut. Kami menjelajahi Alas Puspo, Goa Jepang dan Air Terjun Gopley,” ujar Wakil Bupati Kediri Drs H Masykuri MM.

Meski waktu sudah menunjukkan pukul 06.30 WIB, hawa dingin masih begitu terasa. Suhunya 14 derajat celcius. Lantaran masih diselimuti kabut tebal, mereka seolah-olah berada di atas awan.

Dengan jarak tempuh sekitar 12 kilometer, tim pun berangkat dimulai dari ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Tim Ekspedisi Kediri Lagi pun, bergerak menuju ke Goa Jepang. Mereka berada di tengah persimpangan. Untuk menuju goa Jepang, ada jalur sebelah kiri sekitar 500 meter dengan jalan menurun. Sementara ke Alas Puspo, sekitar 500 meter arah kanan. Lagi, lagi, sang surya, juga belum menampakkan sinarnya lantaran kabut.

“Saya mengimbau khususnya kepada kawan-kawan penggemar lintas alam, penggemar pendakian, medan ini sangat menantang. Juga saya tantang kawan-kawan untuk bisa datang ke sini menyaksikan bagaimana Goa Jepang dan Alas Puspo. Mari kita nikmati anugerah Ilahi yang diberikan kepada Kabupaten Kediri. Pemandangan alamnya indah untuk kita nikmati dan syukuri. Ini menjadi salah satu destinasi Wisata Kabupaten Kediri, “ tantang Masykuri.

Catur Andiranto, memandu tim peliputan menuju ke Goa Jepang, menggambarkan, karena banyaknya kabut dan kondisi medan yang basah, mengharuskan mereka ekstra hati-hati. Sekitar 5 meter sebelum sampai di Goa Jepang, tim menemukan lempengan marmer merah atau lempengan yang terbuat dari batu bata merah.

Begitu sampai ke goa perlindungan Jepang, rupanya tim tidak membawa senter untuk penerangan. Maka, lampu di HP menjadi solusi. Karena sudah tertutup dengan tanah, bibir atau mulut goa menjadi sempit. Lebar mulut gua, hanya sekitar 2 meter, dengan ketinggian sekitar 2 meter.

“Saat kami masuk, ternyata goa ini dipenuhi air seperti kolam renang, dengan kedalaman 0,5 meter. Airnya juga sangat dingin. Seperti air dari kulkas,” terang Catur.

Lebar dalam goa, sekitar 3 meter dengan bentuk U, bisa juga seperti huruf T. Atapnya terbuat dari tanah biasa. Dari tekstur itu, goa ini memang buatan manusia. “Dulu, di sini ada penyanggahnya dari kayu,” kata Catur sambil menunjuk dinding goa.

Jika air kosong, lantai goa bisa terlihat bekas ompak dari kayu. Kedalaman goa sekitar 5 meter, dengan bentuk T. Ke kanan dan ke kiri, masing-masing 4 meter. Di dalamnya, ada kelelawar besar yang menempel di dinding goa. Bentuknya, juga sangat aneh. Terlihat lain dari kebanyakan kelelawar yang pernah kita lihat. Catur meyakni, sebenarnya goa itu besar dan lebar jika kita terus masuk ke dalam. Itu bisa terlihat dari bekas penyangga goa.

Puas merekam goa perlindungan Jepang, tim merangsek ke atas. Mereka naik lagi melewati camp tempat mendirikan tenda. Sasarannya, Alas Puspo. Bedanya, jalan ke Hutan Puspo tidak terlalu naik dan turun. Lebih banyak landai dan bisa dibilang sejajar dengan camp mereka, meski hutan itu puspo berada di punggungan.

Sebelum memasuki hutan puspo, ada parit yang berukuran besar. Sepertinya, parit itu sengaja dibuat saat ada yang menanam pohon. Ini untuk melindungi agar tidak terjadi erosi. Meski begitu, untuk menuju Alas Pospo, tim harus melewati semak belukar tebal. Bahkan ada kalanya, mereka harus berjalan menunduk karena banyaknya semak yang menyatu.

Memasuki Hutan Puspo, ketinggian pohonnya bisa sekitar 70 hingga 100 meter lebih. Pohonnya lurus. Semuanya berdiri berjajar teratur. Lurus itulah, yang menjadikan Hutan Puspo menjadi unik dan menarik. Yang menarik lagi, pohon-pohon itu masih utuh.

Sebuah penanda, bahwa kawasan itu belum terjadi pembalakan liar. Kayunya pun beragam. Pohon kayu meranti, misalnya, terhampar di lahan sekitar 10 hektare.

“Sangat luar biasa. Kita bisa melihat pohon-pohon yang menjulang tinggi. Hawa pengunungan yang sejuk, dan bisa berada di tengah-tengah kabut, seperti negeri di atas awan,” gumam Andi, salah satu peserta yang juga pemula untuk kegiatan pencinta alam.

Puas mengabadikan alas puspo, tim pun kembali ke camp untuk sekadar menikmati sarapan, sekaligus berkemas pulang dengan perjalanan yang sama. Lantaran medannya kebanyakan menurun dan basah, terpeleset dan kram, adalah bagian dari resiko yang harus dihindari. Anda tertantang ke sana? (rif)

Rabu, 22 November 2017 10:04 WIB
Oleh: Suparto Wijoyo*TANGGAL 21 November 2017 kemarin diperingati secara internasional sebagai Hari Pohon. Gerakan tanam pohon untuk bersedekah oksigen nyaris tidak terdengar secara massal di belantara ontran-ontran dramatik Ketua DPR RI Setya N...
Sabtu, 04 November 2017 19:50 WIB
​Oleh: Dr. KHA Musta'in Syafi'ie M.Ag
Oleh: Dr. KHA Musta'in Syafi'ie M.Ag. . .   Subhaana alladzii asraa bi’abdihi laylan mina almasjidi alharaami ilaa almasjidi al-aqshaa alladzii baaraknaa hawlahu linuriyahu min aayaatinaa innahu huwa alssamii’u albashiiru (1).Setelah du...
Oleh: Dr. KH. Imam Ghazali Said., MA
Sabtu, 11 November 2017 10:48 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<...
Kamis, 16 November 2017 12:03 WIB
LONDON, BANGSAONLINE.com - Chelsea Louise Thompson, artis berusia 27 tahun ini pamer lekuk tubuh indahnya, di kamar mandi. Foto telanjangnya diupload dengan caption: Waktu mandi.Dalam foto itu, tampak satu lengannya dipergunakan untuk menut...