“Di samping itu, kita juga banyak temui pedagang pisang goreng. Dimana tumpukan kulit pisangnya hanya menjadi sampah, limbah, yang tidak dimanfaatkan. Jadi ada double manfaatnya,” papar Alif.
Kemudian, Alif dan Yogie mengekstrak biji kelor dan kulit pisang kepok tersebut menjadi serbuk. Dengan menggunakan metode koagulasi/flokulasi, serbuk tersebut dilarutkan ke dalam air limbah tahu.
“Untuk hasil yang maksimal, satu liter limbah air tahu bisa jernih hanya dengan satu gram serbuk (biji kelor dan kulit pisang kepok),” imbuh Alif. Kemudian, setelah serbuk tersebut dilarutkan ke dalam limbah air tahu, diaduk terlebih dahulu hingga 15 menit.
“Setelah itu, dibiarkan hingga sekitar empat jam. Setelah itu, limbah akan mengendap dan air kembali jernih. Sehingga aman jika untuk dibuang kembali ke sungai dan tidak mengakibatkan bau lagi,” terang Yogie.
Tak ayal, karya kedua siswa tersebut berhasil meraih prestasi. Dalam lomba karya tulis ilmiah yang diselenggarakan Universitas Indonesia Program Studi Ilmu Lingkungan dalam rangka Homecoming day 35 tahun untuk pelajar SMP dan SMA, karya mereka menggondol dua penghargaan. “Alhamdulillah, karya kami mendapatkan penghargaan sebagai pameran terbaik dan juga poster terbaik,” cetus Yogie.
Namun, tutur Alif, penelitian yang dilakukan selama satu bulan lebih itu, tidak semata untuk memenangkan perlombaan saja. “Yang terpenting dari penelitian ini adalah agar kami lebih peka terhadap permasalahan lingkungan,” cetusnya.
Ke depannya, keduanya juga akan melakukan serangkaian penelitian lanjutan. Di antaranya adalah mengelola endapan hasil penetralisiran limbah air tahu tersebut. “Kita akan terus mengembangkannya,” ungkap keduanya. (bw1/dur)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




