Ketua Komisi A ini mengakui, Liponsos Kalijudan bukan hanya dihuni anak-anak yang terbelakang mentalnya. Di asrama tersebut, juga ada anak-anak berprestasi dari keluarga miskin yang mendapatkan bea siswa bidik misi dari Dinas Sosial kota Surabaya.
“Memang di sana juga menampung siswa berprestasi, tapi mereka kan bisa mandiri. beda dengan yang punya keterbelakangan mental,” tutur dia.
Namun demikian, Agustin mengapresiasi upaya pemerintah kota yang peduli dan perhatian terhadap anak-anak cacat tersebut. Di asrama “Vila Kalijudan” mereka mendapatkan berbagai macam ketrampilan.
“Ada seni lukis, handycraft, batik kemudian grup band. Sekolah luar biasa ada tapi belum maksimal,”jelas dia.
Untuk meningkatkan kualitas anak-anak tersebut, kalangan dewan berencana mengusulkan penambahan jumlah tenaga pendamping dan peningkatan gizi makanan mereka.
“Untuk makan 3 kali, sehari anggrannya cuma Rp 15 ribu. Kan gak ada gizinya, sangat memprihatinkan,” tandasnya.
Menurutnya, anak-anak penghuni Liponsos Kalijudan membutuhkan mutu pendidikan yang memadai. untuk itu perlu penambahan jumlah guru khusus, dokter, psikolog dan lainnya. Komisi D berencana memanggil Asisten IV Sekota dan Dinas Sosial guna membahas masalah kebutuhan anak-anak yang mengalami keterbelakangan mental yang tinggal di Vila kalijudan 15.
“Selama ini pendamping yang ada memang mempunyai keahlian khusus, tapi ke depan kita akan tingkatkan anggaran agar kebutuhan mereka bisa terpenuhi semua,” pungkas Agustin. (lan/ns)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




