Ringkasan Berita
- Organisasi Netra Bakti Indonesia (NBI) mengusulkan komposisi kepengurusan PBNU periode 2026-2031 yang memadukan otoritas kiai dan intelektual muda. Usulan ini bertujuan agar NU tetap relevan menghadapi tantangan zaman yang kompleks.
- Struktur kepemimpinan yang diusulkan menempatkan Said Aqil Siradj sebagai Rais Aam dan Nasaruddin Umar sebagai Ketua Umum PBNU. Beberapa tokoh lain seperti Afifuddin Muhajir, Marzuki Mustamar, serta Alissa Wahid juga diusulkan menduduki posisi penting.
- Penyusunan formasi ini didasarkan pada keseimbangan kapasitas keilmuan, pengalaman organisasi, dan kemampuan membaca dinamika sosial, bukan semata popularitas. NBI menilai NU memerlukan kepemimpinan yang mampu memimpin transformasi di samping menjaga tradisi.
- Tantangan yang dihadapi NU dinilai telah berubah signifikan dalam satu dekade terakhir, sehingga membutuhkan formulasi kepemimpinan yang menjembatani otoritas keulamaan dengan kebutuhan pembaruan. NU diharapkan tetap menjadi rumah besar umat Islam yang melahirkan solusi bagi persoalan bangsa.
SURABAYA,BANGSAONLINE.com - Netra Bakti Indonesia (NBI) mengusulkan komposisi kepengurusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) periode 2026-2031 dengan menempatkan sejumlah kiai berpengaruh dan kalangan intelektual muda dalam struktur kepemimpinan organisasi.
Ketua Umum NBI, HRM. Khalilur R. Abdullah Sahlawiy, mengatakan Nahdlatul Ulama membutuhkan formulasi kepemimpinan yang mampu menjembatani otoritas keulamaan dengan berbagai tantangan zaman yang semakin kompleks.
“NU membutuhkan kombinasi antara kedalaman ilmu para kiai dan energi pembaruan dari generasi intelektual muda. Keduanya tidak boleh dipertentangkan. Justru harus dipadukan agar NU tetap menjadi penuntun umat sekaligus relevan menghadapi perubahan global,” kata Gus Lilur dalam keterangannya, Kamis (18/6/2026).
Dalam rancangan yang disusun NBI, posisi Rais Aam diusulkan dijabat oleh Said Aqil Siradj. Sementara jabatan Wakil Rais Aam diusulkan diisi oleh Afifuddin Muhajir dan Marzuki Mustamar. Adapun posisi Katib Aam diusulkan untuk Abdus Salam Shohib.
Pada jajaran Tanfidziyah, NBI mengusulkan Nasaruddin Umar sebagai Ketua Umum PBNU.
Ia didampingi oleh Nusron Wahid serta Alissa Wahid yang diusulkan sebagai Wakil Ketua Umum.
Sementara posisi Sekretaris Jenderal diusulkan dijabat oleh Yusuf Chudlori dan Bendahara Umum oleh Imam Jazuli.
Menurut Gus Lilur, komposisi kepengurusan tersebut disusun bukan semata berdasarkan tingkat popularitas tokoh, melainkan mempertimbangkan keseimbangan antara kapasitas keilmuan, pengalaman organisasi, dan kemampuan membaca dinamika perubahan sosial.
Ia menilai tantangan yang dihadapi NU saat ini jauh berbeda dibandingkan satu dekade sebelumnya.
“NU tidak cukup hanya menjaga tradisi, NU juga harus mampu memimpin transformasi. Karena itu, kami mengusulkan kepemimpinan yang memadukan kearifan ulama dengan perspektif intelektual yang adaptif terhadap perkembangan zaman,” kata Gus Lilur.
Ia menambahkan, sejumlah figur yang diusulkan NBI dinilai memiliki rekam jejak yang mampu merepresentasikan dua kekuatan utama NU, yakni otoritas keagamaan dan kemampuan membangun dialog dengan masyarakat modern.
“Paling penting bukan siapa yang menang, tetapi bagaimana NU tetap menjadi rumah besar umat Islam yang mampu melahirkan solusi atas berbagai persoalan bangsa,” pungkasnya. (mdr/van)










