ATM BCA selalu ramai. foto: tempo.co
Menurut dia, pengecekan saldo yang dilakukan tiap hari oleh nasabah melalui ATM, khususnya, cukup merugikan. “Biaya untuk ATM itu lebih mahal dibanding biaya transaksi melalui e-channel,” ucapnya. Biaya besar operasional ATM itu di antaranya untuk transaksi nasabah, pemeliharaan mesin, kertas, AC, listrik, dan asuransi.
Hingga September 2015, BCA berhasil membukukan FBI sebesar Rp 13,79 triliun. Angka ini tercatat meningkat 53,62 persen dibanding pencapaian dalam periode yang sama pada 2014, yaitu Rp 8,98 triliun.
Selanjutnya, BCA juga berencana mengurangi ekspansi perusahaan dengan mengurangi kantor cabang dan ATM. Salah satu tujuan pengetatan ini adalah menjaga pertumbuhan laba perusahaan.
Kendati demikian, Inge mengatakan belum ada keputusan waktu pasti untuk menerapkan kebijakan biaya tambahan pengecekan saldo itu. “Kalau mau dikenai biaya itu pasti nanti disosialisasi. Kan harus dengar pendapat nasabah dulu, panjang prosesnya,” katanya.
Yang pasti, sejumlah nasabah BCA memprotes rencana manajemen perusahaan yang akan mengenakan potongan biaya bagi transaksi tarik uang tunai dari anjungan tunai mandiri (ATM) milik bank tersebut. Bahkan untuk sekadar mengecek saldo yang tersisa di rekening melalui ATM, BCA juga akan mengenakan biaya dalam waktu paling cepat tiga bulan lagi.
"Sangat keberatan. Tidak ada pemberitahuan terlebih dahulu kepada nasabah, sangat tidak berpihak kepada nasabah," kata Estu Suryowati (28), salah seorang nasabah BCA yang berprofesi sebagai karyawan swasta kepada CNNIndonesia.com, Jumat (4/3).
Hal senada juga diutarakan oleh nasabah BCA lainnya yaitu Desy Setyowati (26). Menurut Desy aktivitas tarik tunai dan mengecek saldo seharusnya tetap menjadi fasilitas cuma-cuma yang disediakan oleh bank. Fasilitas itu diberikan oleh BCA sebagai bentuk pelayanan kepada nasabah yang telah mempercayakan uangnya disimpan di BCA.
Bahkan jika benar nantinya BCA memberlakukan tarif tersebut, ia mengatakan tak segan-segan menarik tabungannya yang selama ini disimpan di bank swasta terbesar asal Indonesia tersebut.
"Itu kan fasilitas bank yang seharusnya diberikan secara cuma-cuma kepada nasabah. Nasabah bisa ancam tarik simpanan di BCA kalau benar begitu," kata Desy.
Nasabah BCA lainnya, Fitria Usman (25) juga menyatakan tidak setuju terhadap rencana itu. Meski manajemen BCA mengklaim rencana ini sebagai upaya untuk meningkatkan transaksi m-Banking, Fitri merasa rencana itu tetap tidak adil.
"Aneh sekali. Belum tentu semua orang pakai m-Banking, tidak peduli tarifnya berapa, karena memang seharusnya gratis. Ibarat kata ini di rumah sendiri, masa mau masuk pintu harus bayar," katanya.
Sebagai seorang pengusaha sektor UMKM, dirinya banyak melakukan aktivitas cek saldo dan tarik tunai lebih dari lima kali dalam sehari. Ia merasa rugi jika nantinya aktivitas tersebut dikenakan biaya.
"Merugikan UKM. Soalnya kalau orderan masuk, sudah transfer, kita harus ngecek. Margin UMKM makin kepotong, apalagi margin untung UMKM cuma 10-20 persen," katanya.
“Ke ATM saja sudah seperti main petak umpat dengan tukang parkir, karena kita malas harus keluar uang untuk membayar parkir. Eh ini malah kena biaya dari bank,” imbuh Adhy Arma (29), salah seorang nasabah BCA lainnya. (tim)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




