SURABAYA, BANGSAONLINE.com-Pengusulan KH Muhammad Yusuf Hasyim sebagai pahlawan nasional kembali dibahas dalam acara seminar nasional dan bedah buku berjudul KH Muhammad Yusuf Hasyim (1929 – 2007), Hidup, Pemikiran dan Keperjuangannya, Rabu (15/6/2026).
Sejatinya, Kiai Muhammad Yusuf Hasyim merupakan calon pahlawan nasional yang telah dinyatakan Memenuhi Syarat alias MS oleh Tim Peneliti dan Pengkaji Pahlawan Pusat (TP2GP). Tapi penetapannya sebagai pahlawan nasional masih tertunda.
Tapi benarkah berdasar sumber primer paling lengkap? Simak laporan M. Mas’ud Adnan, wartawan BANGSAONLINE dari lokasi acara.
Acara seminar dan bedah buku tentang perjuangan Kiai Muhammad Yusuf Hasyim itu menghadirkan pembicara Prof Usep Abdul Matin, MA, Ketua Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Pusat (TP2GP) Jakarta dan Prof Dr Agus Mulyana, M.Hum, Ketua Umum Pengurus Pusat Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) yang juga anggota Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan (GTK) Jakarta.
Acara yang digelar di kantor JKSN Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya itu dihadiri sejumlah kiai, pejabat dan tokoh masyarakat. Pantauan HARIAN BANGSA di lokasi, para ulama yang hadir, antara lain tuan rumah acara yaitu Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim.
Juga hadir KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Ketua PWNU Jawa Timur yang juga pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang. Hadir juga Syaikh Ahmad Muhammad Mabruk Al Husaini dari Universitas Al Azhar Mesir.
Juga tampak Prof Dr KH Imam Ghazali Said, MA, guru besar UINSA yang juga pengasuh Pesantren Mahasiswa An-Nur Wonocolo Surabaya dan KH Dr Ahmad Sujak, Ketua Dewan Masjid Indonesia Jawa Timur yang juga Kepala Badan Pengelola Masjid Nasional Al Akbar Surabaya serta Ketua Pengurus Cabang (PC) Muslimat NU Dra Nyai Hj Lilik Fadilah, MPdi dan para aktivis perempuan lainnya.
Dari jajaran pejabat tampak Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur Dr Adhy Karyono dan Kepala Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur Dra Restu Novi Widiani, MM serta pejabat yang lain.
“Acara ini juga dihadiri para dzuriah KH Muhammad Yusuf Hasyim, yaitu putra-putrinya, antara lain Gus Reza Yusuf, Ibu Nyai Nurul Hayati dan Nyai Nurul Aini,” ujar M. Mas’ud Adnan, M.Si selaku moderator bedah buku saat mengawali acara.
Dalam acara itu Gus Reza Yusuf menyampaikan sambutan mewakili keluarga besar KH Muhammad Yusuf Hasyim.
Menurut Mas’ud Adnan, acara itu juga dihadiri tokoh Muhammadiyah dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
“Hadir juga tokoh Muhammadiyah Jawa Timur Bapak Doktor Ahmad Rubaie, yang juga mantan anggota DPR RI,” ujar Mas’ud Adnan.
Kiai Asep selaku tuan rumah acara menegaskan bahwa syarat-syarat kepahlawanan Kiai Muhammad Yusuf sudah sangat lengkap. Bahkan secara argumentatif dan akademik data Kiai Muhammad Yusuf Hasyim paling lengkap dan paling memenuhi syarat sebagai pahlawan nasional.
“Kita tinggal menunggu penetapan beliau sebagai pahlawan nasional dari presiden,” ujar Kiai Asep Saifuddin Chalim kepada puluhan wartawan yang meliput acara tersebut.
Menurut Kiai Asep, sejak kecil berusia 12 tahun Kiai Yusuf Hasyim sudah terlibat perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.
“Saat Kiai Hasyim Asy’ari diambil (ditangkap) Jepang, Kiai Muhammad Yusuf Hasyim berusia 12 tahun. Kiai Muhammad Yusuf Hasyim datang ke kiai-kiai di berbagai daerah untuk memberi tahu bahwa Kiai Hasyim Asy’ari diambil Jepang,” ujar Kiai Asep yang merupakan putra pahlawan nasional KH Abdul Chalim.
Menurut Kiai Asep, perjuangan Kiai Muhammad Yusuf Hasyim tidak berhenti pada Agustus 1945 saat bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaan. Tapi terus berlanjut saat bangsa Indonesia telah merdeka. Bahkan, menurut Kiai Asep, pasca proklamasi kemerdekaan Indonesia hampir lepas.
“Saat itu Surabaya-Jombang masih dikuasai Van Mook. Kiai Yusuf Hasyim yang kemudian merebut dari Van Mook,” ujar pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah yang juga Ketua Umum Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu).
Hubertus Johannes van Mook adalah tokoh politik terkemuka Belanda. Ia pernah menjabat Menteri Tanah Jajahan (Minister van Kolonie) dan Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Selama Revolusi Nasional Indonesia, Van Mook tercatat sebagai Letnan Gubernur Jenderal Hindia Belanda, mulai 1942 hingga 1948.
“Kiai Yusuf Hasyim adalah pejuang yang syaja’ah, yaitu pemberani tapi penuh perhitungan,” ujar Kiai Asep sembari mengatakan bahwa pelipis Kiai Yusuf Hasyim pernah terkena peluru tentara Belanda saking beraninya.
Kiai Abdul Hakim Mahfudz yang akrab dipanggil Gus Kikin juga memberikan kesaksian tentang perjuangan Kiai Yusuf Hasyim. Menurut Gus Kikin, banyak sekali peran Kiai Yusuf Hasyim dalam perjuangan Indonesia Merdeka, terutama dalam menyelamatkan para kiai dan ulama dari serangan PKI.
“Yang saya ingat betul Kiai Yusuf Hasyim menyelamatkan Pondok Gontor,” ujar Gus Kikin.
Menurut Gus Kikin, Kiai Yusuf Hasyim memang sudah waktunya mendapat gelar pahlawan nasional. Karena peran Kiai Yusuf Hasyim sangat jelas baik dalam perjuangan kemerdekaan maupun mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari rongrongan penjajah dan PKI.
“Bahkan juga banyak kiai-kiai lain dari Jawa Timur yang sangat layak menjadi pahlawan nasional,” ujar Gus Kikin sembari mengatakan bahwa kita sebenarnya terlambat dalam mengangkat para kiai sebagai pahlawan nasional.
Prof Usep Abdul Matin membenarkan bahwa sumber primer penulisan sejarah Kiai Muhammad Yusf Hasyim paling lengkap. Ia mengungkapkan hasil penelitiaanya tentang Kiai Muhammad Yusuf Hasyim. Menurut dia, semula ia menargetkan 50 sumber primer untuk penulisan sejarah hidup, pemikiran dan keperjuangan Kiai Muhammad Yusuf Hasyim.
“Tapi ternyata terkumpul 120 sumber. Sebanyak 76 sumber primer, sebanyak 44 sumber sekunder,” ujar Prof Usep yang dikenal sebagai guru besar sejarah dan peradaban Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Menurut Prof Usep, seluruh hidup Kiai Muhammad Yusuf Hasyim semata untuk perjuangan Islam dan bangsa Indonesia. Meski demikian ia sempat menjadi korban fitnah.
“Karena dalam menolong orang Kiai Muhammad Yusuf Hasyim tak pernah melihat orang,” ujar Prof Usep yang menyelesaikan S3-nya di University of Monash Australia.
Menurut dia, Kiai Muhammad Yusuf Hasyim pernah dipenjara karena difitnah orang. Kiai Yusuf Hasyim dituduh membantu senjata battalion 426 dan DII/TII.
Namun ia kemudian dibebaskan karena tak cukup bukti. “Kiai Muhammad Yusuf Hasyim tidak terlibat memberikan senjata. Apalagi membantu DII/TII,” ujar Prof Usep yang menyelesaikan S2 di University of Duke Amerika Serikat dan juga di University of Leiden Belanda.
Prof Usep membenarkan apa yang disampaikan Kiai Asep dan Gus Kikin. Menurut dia, Kiai Muhammad Yusuf Hasyim memang telah menyelamatkan para kiai Pondok Modern Gontor Ponorogo yang saat itu menjadi target pembunuhan PKI.
“Kalau bukan karena perjuangan Pak Ud mungkin sudah tidak ada Pondok Gontor,” ujar Prof Usep. Pak Ud adalah panggilan Kiai Muhammad Yusuf Hasyim semasa hidupnya.
Kiai Muhammad Yusuf Hasyim, tegas Prof Usep, juga menyelamatkan HMI dari rongrongan PKI. Menurut dia, Kiai Yusuf Hasyim itulah yang turun jalan memimpin ribuan pendemo menentang PKI yang akan membubarkan HMI.
Saat itu kekuatan politik PKI merajalela.
“Pak Ud yang membendung internasionalisasi komunis,” ujar Prof Usep.
Namun, tegas Prof Usep, Kiai Muhammad Yusuf Hasyim tak pernah terlibat atau menganjurkan melakukan aksi kekerasan. Bahkan, menurut Prof Usep, saat memimpin Ansor pun Kiai Yusuf Hasyim tak pernah terlibat kekerasan.
“Asas Ansor justeru Pancasila,” ujar Prof Usep.
Prof Agus Mulyana juga menilai Kiai Muhammad Yusuf Hasyim telah memenuhi semua persyaratan pahlawan nasional. Baik syarat khusus maupun syarat umum.
Menurut dia, Kiai Muhammad Yusuf Hasyim, selain terlibat langsung dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan juga banyak mempersembahkan pemikirannya untuk kemajuan pendidikan Indonesia.
Kiai Muhammad Yusuf Hasyim adalah pengasuh Pesantren Tebuireng sejak 1965 hingga 2006. Selama mimpin Pesantren Tebuireng Kiai Yusuf Hasyim banyak melakukan pembaruan pendidikan di pesantren. Bahkan Kiai Yusuf Hasyim merupakan pengasuh pesantren pertama yang mendirikan SMP dan SMA di lingkungan pesantren. Kiai Yusuf Hasyim juga mendirikan Universitas Hasyim Asy’ari (Unhasy).
“Karena itu kami akan berjuang agar Kiai Muhammad Yusuf Hasyim bisa menjadi pahlawan nasional,” ujar Prof Agus yang merupakan anggota Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan (GTK).
Pemprov Jatim sangat mendukung Kiai Muhammad Yusuf Hasyim sebagai pahlawan nasional. "Seluruh usulan, syarat-syarat, kemudian data sejarah sudah sangat lengkap. Tahun lalu sudah masuk 20 besar, sehingga mudah-mudahan tahun ini bisa mendapatkan gelar pahlawan nasional," kata Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jatim Adhy Karyono.
Menurut dia, lewat seminar ini warga Jawa Timur mengingatkan pemerintah pusat agar usulan Kiai Muhammad Yusuf Hasyim menjadi perhatian dalam penetapan gelar pahlawan nasional menjelang peringatan Hari Pahlawan pada 10 November.
"Masyarakat Jawa Timur sangat menginginkan perjuangan Kiai Haji Muhammad Yusuf Hasyim kali ini mendapatkan gelar pahlawan nasional," tegas Adhy Karyono.
Gus Reza Yusuf yang mewakili dzuriah Kiai Muhammad Yusuf Hasyim mengucapkan terimakasih atas semua ikhtiar para kiai dan tokoh masyarakat. Ia berharap perjuangan ayahandanya menjadi teladan terutama bagi generasi sekarang dan mendatang.










