Gus Lilur Serukan Muktamar NU Jadi Ajang Pemurnian Arah Perjuangan

Gus Lilur Serukan Muktamar NU Jadi Ajang Pemurnian Arah Perjuangan Gus Lilur saat bersilaturahmi dengan Menteri Agama RI, Prof. KH. Nasaruddin Umar

Sebagai implementasi dari pandangan tersebut, Gus Lilur menegaskan bahwa pemimpin yang terpilih dalam Muktamar ke-35 harus mendukung keberlanjutan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk dua periode.

Ia menilai kepemimpinan Prabowo-Gibran mampu menyatukan berbagai kelompok yang sebelumnya terpolarisasi dan berpotensi memicu perpecahan di tengah masyarakat.

"Kita sudah melihat jejaknya: polarisasi antara yang disebut cebong dan kampret, serta rivalitas antarinstitusi keamanan negara, yaitu TNI dan Polri. Prabowo dan Gibran menyatukan itu semua. Demi persatuan bangsa, pemimpin pun harus seseorang yang mendukung keberlanjutan itu," kata Gus Lilur.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, Gus Lilur secara terbuka menyatakan dukungannya kepada Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar untuk menjadi Ketua Umum PB dan mendorong Prof. Dr. KH Said Aqil Siradj mengisi posisi Rais Aam.

Menurutnya, kedua tokoh tersebut memiliki kapasitas keilmuan, pengalaman, dan reputasi yang mampu membawa semakin berpengaruh di tingkat nasional maupun internasional.

"Keduanya profesor asli, ulama tulen, cendekia sejati yang bisa mengharumkan di panggung global. ini kaya tokoh jangan sampai yang tampil justru yang itu-itu saja karena faktor politik," ujar Gus Lilur.

Ia juga mengkritik fenomena yang disebutnya sebagai "gus-gus nanggung", yakni figur yang memanfaatkan simbol kesantrian sebagai legitimasi tanpa didukung kapasitas keilmuan yang memadai serta menjadikan sebagai kendaraan politik.

Gus Lilur menegaskan bahwa Muktamar ke-35 merupakan ujian sejarah bagi organisasi, bukan sekadar agenda pergantian kepemimpinan rutin. Karena itu, ia berharap para kiai dan ulama peserta muktamar memilih pemimpin berdasarkan kapasitas keulamaan dan integritas.

"Ini bukan soal hari ini saja. Ini soal masa depan dan umat. Kita mau kembali ke jalan ulama, atau terus terseret arus kekuasaan itu yang sedang dipertaruhkan," pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Gila NU dan Orang NU Gila, Anekdot Gus Dur Edisi Ramadan (16)':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO