Ilustrasi
JAKARTA,BANGSAONLINE.com - Nilai tukar rupiah ditutup menguat signifikan pada perdagangan Rabu (10/6/2026). Mata uang Garuda berakhir di level Rp17.944 per dolar AS atau menguat 114 poin setara 0,63 persen dibandingkan penutupan hari sebelumnya.
Sebelumnya, pada pembukaan perdagangan pagi, rupiah berada di posisi Rp17.900 per dolar AS.
BACA JUGA:
- Pertamax Naik Hampir Rp4.000, Konsumen SPBU Jetis Lamongan Pindah Haluan ke Pertalite
- Rupiah Ditutup Menguat Tipis ke Rp18.036, Terjepit Konflik Timur Tengah dan Proyeksi OECD
- Rupiah Dijaga Melalui Langkah Terukur dan Penguatan Fundamental Ekonomi
- Viral di Medsos soal Campuran Pertalite yang Terdapat Etanol, Begini Tanggapan Pertamina
Sejumlah analis menilai penguatan rupiah tidak lepas dari kebijakan pemerintah yang menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax mulai hari ini. Kebijakan tersebut dinilai memberikan sentimen positif bagi pasar.
Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong mengatakan, langkah pemerintah menaikkan harga Pertamax menjadi salah satu faktor utama yang menopang penguatan rupiah. Menurutnya, tren positif tersebut masih berpotensi berlanjut apabila tidak muncul tekanan dari faktor eksternal.
"Momentum positif ini diharapkan masih akan bisa berlanjut besok apabila tidak ada tekanan ekstrem eksternal terutama perkembangan seputar Timur Tengah dan harga minyak dunia," kata Lukman.
Selain kebijakan harga BBM, Lukman menilai penguatan rupiah juga didorong meningkatnya ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia pada periode mendatang.
"Penguatan ini murni didukung sentimen domestik oleh meningkatnya harapan pada BI untuk kembali menaikkan suku bunga ke depannya," kata dia.
Sebelumnya, analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, juga menilai penguatan rupiah dipengaruhi kebijakan penyesuaian harga Pertamax yang dinilai memberikan dampak positif terhadap kondisi fiskal pemerintah.
“Transmisi kebijakan kenaikan harga BBM non subsidi dinilai baik (oleh pelaku pasar) terhadap fiskal pemerintah dan risiko sosial politik yang masih terkendali,” terang dia.
Menurut pelaku pasar, keberanian pemerintah menaikkan harga BBM nonsubsidi dipandang sebagai langkah rasional yang berpotensi meningkatkan kembali kepercayaan investor.
Kebijakan tersebut dinilai berbeda dengan pendekatan sebelumnya yang cenderung mengedepankan kebijakan populis.
Penguatan rupiah pada perdagangan hari ini juga sejalan dengan pergerakan sejumlah mata uang di kawasan Asia. Won Korea Selatan menguat 0,3 persen, peso Filipina naik 0,22 persen, baht Thailand terapresiasi 0,22 persen, rupee India bertambah 0,09 persen, dan dolar Hong Kong menguat tipis 0,01 persen.
Di sisi lain, beberapa mata uang Asia justru ditutup melemah terhadap dolar AS. Dolar Taiwan mencatat pelemahan terdalam dengan penurunan 0,13 persen, diikuti ringgit Malaysia yang terkoreksi 0,07 persen, dolar Singapura melemah 0,06 persen, yuan China turun 0,03 persen, serta yen Jepang yang terkoreksi tipis 0,02 persen.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News





