Hadratussyaikh KHM Hasyim Asy'ari. Foto: dok. NU
Oleh: M. Mas’ud Adnan
Ini fenomena menarik. Sebanyak 23 PWNU dari seluruh Indonesia mengancam mosi tidak percaya terhadap PBNU akibat konflik yang berlarut-larut antara Rais ‘Aam Syuriah PBNU KH Miftachul Ahyar dengan Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya).
BACA JUGA:
- Inilah Berkah 23 PWNU Ancam Mosi Tidak Percaya terhadap PBNU
- Ketua Panitia Muktamar NU Harus Adil dan Netral, Bukan Kubu Kiai Miftah, Bukan Kubu Gus Yahya
- PCNU Bangil Tegaskan Legalitas Yayasan Pancawahana, Sudiono Fauzan: Kami Siap Tempuh Jalur Hukum
- PCNU-PCNU di Jabar Ingin Rais Aam yang secara Ekonomi sudah Selesai
Sebelumnya, sudah banyak upaya dilakukan untuk mendamaikan Kiai Miftachul Ahyar dan Gus Yahya, termasuk para kiai sepuh. Tapi semua upaya terkesan muspro. Faktanya, Kiai Miftach dan Gus Yahya tetap jalan sendiri-sendiri. Bahkan untuk menentukan Muktamar ke-35 2026 saja Kiai Miftach dan Gus Yahya sempat silang sengkurat. Nah. Benarkah gerakan 23 PWNU itu akan menjadi solusi penyelesaian NU yang ruwet gara-gara PBNU?
Banyak kiai dan warga NU yang jenuh menyaksikan performance PBNU. Setidaknya, ada lima elit PBNU yang terus menjadi sorotan. Yaitu Rais ‘Aam Syuriah PBNU KH Miftachul Ahyar, Ketua Umum Tanfidziyah KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), Katib ‘Aam KH Ahmad Said Asrori, Sekjen Saifullah Yusuf (Gus Ipul) dan Bendahara Umum Gudfan Arif.
Karena itu ketika ada 23 PWNU mengancam akan melakukan mosi tak percaya terhadap PBNU banyak yang lega. Bahkan berkat ancaman mosi tidak percaya 23 PWNU itulah sekarang muncul optimisme di kalangan kiai dan warga NU.
Selama ini para kiai dan warga NU merasa buntu dan seolah sudah tak ada solusi penyelesaian atas konflik PBNU yang selama ini sibuk mempertahankan ego dan kepentingannya sendiri (bukan kepentingan NU).
Saya sendiri sejak awal yakin ancaman mosi tak percaya 23 PWNU itu efektif. Sebab jika PBNU tak merespons niscaya akan sangat fatal bagi elit PBNU itu sendiri. Faktanya, tak lama berselang Rais ‘Aam dan Ketua Umum PBNU sepakat menggelar Muktamar pada Agustus 2026.
Ini berarti PBNU juga tak bisa berbuat apa-apa ketika semua PWNU dan PCNU sepakat untuk melawan PBNU. Maklumlah, mandat PBNU ada di tangan PWNU dan PCNU.
“Mereka mulai memenuhi tuntutan kita,” ujar salah seorang ketua PWNU kepada saya di Jakarta, Jumat (1/5/2026) malam.
Ketua PWNU yang enggan disebut namanya ini termasuk salah satu peserta pertemuan 23 PWNU dengan Gus Yahya di kantor PBNU Jalan Kramat Raya Jakarta Pusat, Senin (28/4/2026) lalu.
Ia mengaku kesal terhadap PBNU bukan semata karena Kiai Miftach dan Gus Yahya telah merusak marwah NU, tapi juga karena peran PWNU selama ini diberangus oleh PBNU kepemimpinan Kiai Miftach dan Gus Yahya.
“SK PWNU mereka (PBNU) yang bikin, SK PCNU juga dari mereka (PBNU),” ujar kiai itu lagi.
“Akhirnya banyak PCNU yang bypass, PWNU gak diberi wewenang samasekali oleh PBNU,” tambahnya.
Menurut dia, seharusnya SK PCNU itu cukup dari PWNU, bukan dari PBNU. Dengan demikian, PWNU punya wibawa dan dihargai oleh PCNU.
“Selama ini PWNU gak dihargai, hanya dimintai rekomendasi,” ujarnya.
Ironisnya, PBNU sendiri tidak amanah. Menurut dia, SK PWNU dan PCNU banyak dipermainkan oleh PBNU.
“Ada yang sudah dua tahun ditahan oleh PBNU,” ujarnya.
Menurut dia, jumlah SK PCNU dan PWNU yang dipermainkan sangat banyak. Nyaris mencapai 100 SK lebih.
Untuk apa? SK PCNU dan PWNU itu sengaja ditahan agar bisa dibuat alat bargaining untuk mendukung mereka dalam Muktamar ke-35 NU nanti.
Nah, dari praktik permainan SK itu bisa kita lihat betapa oknum PBNU itu mengelola organisasi sebesar NU, yang warganya mencapai ratusan juta orang, sangat amatiran, tidak profesional, apalagi Ikhlas.
“Ya, itu,” tegas kiai itu.
Seperti diberitakan, Ketua PWNU Jawa Barat KH Juhadi Muhammad mengungkapkan ada tiga poin tuntutan 23 Ketua PWNU itu kepada PBNU. Pertama, 23 ketua PWNU itu mendesak agar Muktamar ke-35 NU digelar awal Juli atau akhir Agustus 2026. Jika PBNU mengabaikan, maka 23 PWNU bersama para ketua PCNU se-Indonesia akan menyampaikan Mosi Tidak Percaya terhadap kepemimpinan PBNU yang dipimpin Kiai Miftachul Akhyar dan Gus Yahya.
Kedua, meminta PBNU konsisten melaksanakan keputusan Rapat Harian Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU soal penuntasan pembentukan panitia Munas, Konbes, Muktamar, serta percepatan penyelesaian Surat Keputusan (SK) pada 18 Maret 2026.
Ketiga, PBNU atau steering committee harus sudah menetapkan peserta Muktamar dari PWNU, PCNU, dan PCINU paling lambat satu bulan sebelum Muktamar.
Pertemuan 23 PWNU dengan Gus Yahya digelar di kantor PBNU di Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, pada Selasa (28/4/2026).
“Sebelum bertemu Gus Yahya kami juga bertemu Kiai Miftah, tapi lewat zoom,” ujar kiai tersebut. Menurut kiai tesebut, pertemuan dengan Kiai Miftachul Ahyar digelar Senin (27/4/2026).
Menurut dia, 23 PWNU itu bertemu Kiai Miftachul Ahyar juga dalam rangka menyampaikan tiga tuntutan. Termasuk ancaman mosi tak percaya.
Kiai tersebut juga menuturkan, bahwa juru bicara (jubir) pertemuan dengan Kiai Miftachul Ahyar lewat zoom adalah Ketua PWNU Jawa Timur KH Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin). Sedangkan jubir pertemuan dengan Gus Yahya di kantor PBNU adalah Ketua PWNU Jawa Barat KH Juhadi Muhammad.
Lalu apa indikator PBNU telah mulai memenuhi tuntutan 23 PWNU itu? Bukankah Gus Yahya dikabarkan menginginkan Muktamar digelar akhir tahun 2026? Menurut ketua PWNU yang saya wawancarai itu, salah satu indikatornya adalah SK untuk PCNU-PCNU yang selama ini ditahan mulai turun.
“Beberapa SK PCNU sudah diberikan,” ujarnya sembari menyebut beberapa daerah PCNU yang telah menerima SK pasca ancaman mosi tidak percaya itu.
“Padahal SK PCNU itu sudah dua tahun ditahan oleh PBNU,” ujarnya lagi.
Menurut dia, 23 Ketua PWNU dari seluruh Indonesia itu akan terus mengawal perkembangan sikap PBNU. Ia bersama PWNU lainnya sangat optimistis PBNU akan memenuhi semua tuntutan 23 PWNU itu.
“Seandainya PBNU tak memenuhi tiga poin tuntutan itu apakah 23 PWNU akan benar-benar melakukan mosi tak percaya,” tanya saya.
“Saya tak yakin (menolak). PBNU pasti mengabulkan. Karena kalau tidak, mereka akan tambah malu kalau sampai dimosi tidak percaya,” kata kiai itu dengan intonasi tegas.
“Kabarnya pendukung Gus Yahya protes dan menuduh ada yang merekayasa 23 PWNU itu,” tanya saya sembari menunjukkan komentar di media sosial.
“Ya, mereka protes di grup,” ujarnya.
Kiai ini mengaku bukan kubu Kiai Miftach atau Gus Yahya. Tapi semata ingin mengembalikan marwah NU.
“Kita ini malu, baik kepada masyarakat, warga NU maupun kepada organisasi lain. Tiap hari organisasi NU jadi bahan tertawaaan dan tak ada tanda-tanda penyelesaian,” ujarnya.
Tampaknya kiai ini obyektif, tidak miring ke kubu Kiai Miftah maupun ke kubu Gus Yahya. Buktinya, ia tak segan-segan mengungkap prilaku negatif dua kubu tersebut.
Ia misalnya bercerita tentang Gus Ipul (kubu Kiai Miftach) terkait SK yang ditahan. Menurut dia, Gus Ipul juga sering intervensi Konfercab (PCNU) dan Konferwil (PWNU).
“Kalau bukan orangnya dia yang jadi ketua tak di-SK. Bahkan Konfercabnya harus diulang,” ujarnya.
Ia juga mengungkap prilaku negatif Gus Yahya. Menurut dia, Gus Yahya selain sudah cemar karena faktor Israel juga tak bisa memimpin PBNU.
“Dia kan belum pernah jadi ketua NU (di PW atau di PC),” ujarnya.
Kiai ini juga mengungkap sepak terjang Kiai Miftah soal tambang dan intervensi pihak luar.
Nah, dari sikap obyektif dan netral tersebut jelas bahwa kiai tersebut bukan orang suruhan kubu Kiai Miftah dan Gus Ipul seperti yang dituduhkan oleh sekelompok orang di medsos. Sekedar informasi, beberapa orang menuduh 23 PWNU itu memihak Kiai Miftah karena mereka minta Muktamar ke-35 NU digelar Agustus 2006.
Padahal percepatan pelaksanaan Muktamar ke-35 NU itu merupakan aspirasi mayoritas warga NU, kecuali mereka yang punya kepentingan untuk mempertahankan kekuasaan dan ingin memperpanjang periode kepengurusan.
Kiai yang saya wawancarai itu justru mengaku menangkap aspirasi arus bawah yang menginginkan kiai-kiai yang sekarang menjabat di PBNU seperti Kiai Miftach, Gus Yahya, Gus Ipul, Kiai Said Anshori dan Gudfan Arif, legowo tak mencalonkan lagi mengingat warga NU trauma dengan konflik berkepanjangan akibat ego dua kubu tersebut.
Dan kita pun berharap PBNU yang sekarang punya kepekaan menangkap perasaan dan aspirasi warga NU, terutama kiai-kiai kampung yang tulus. Arus bawah NU menginginkan PBNU ke depan dipimpin oleh kader NU yang muchlis, tulus, tanpa tendensi apapun, baik finansial, politik dan juga bukan dari kubu yang bertikai.
Ya, berilah kesempatan kepada kiai atau kader NU yang masih fresh, tidak terlibat dalam konflik dan juga bukan orang dari dua kubu tersebut. Insyallah damai dan penuh berkah.
Alhasil, ancaman mosi tidak percaya 23 PWNU itu telah banyak memberikan harapan. Saya sendiri optimistis ancaman mosi tak percaya dari 23 PWNU kepada PBNU sangat efektif. Karena selain mereka obyektif, berada di tengah, dan tidak memihak, juga di tangan 23 PWNU inilah nasib PBNU itu akan ditentukan: apakah mereka akan khusnul khatimah (berakhir baik) atau suul khatimah (berakhir buruk).
Ini memang fenomena menarik. Jika selama ini PBNU menjadi faktor penentu dan bahkan “mempermainkan” PWNU, karena posisi PWNU dan PCNU yang ditengarahi tertekan dan ketakutan, sekarang justru PWNU yang akan menentukan “hitam-putih” oknum PBNU. Ini tentu berkat nyali dan keberanian moral 23 PWNU itu.
Saya yakin keberanian moral itu muncul bukan semata faktor konflik yang berkepanjangan serta tak bisa diselesaikan, tapi juga karena faktor akumulasi kekecewaan terhadap PBNU yang selama ini dianggap tidak adil dan sewenang-wenang. PBNU ditengarai mempraktikkan manajemen partai politik terhadap PCNU dan PWNU. Salah satu contoh mempermainkan SK dan intervensi terhadap Konferensi Wilayah dan Konferensi Cabang terutama dalam pemilihan Rais Syuriah dan Ketua Tanfidziah NU.
Karena itu saya juga yakin bahwa 23 PWNU itu akan tercatat sebagai penyelamat organisasi keagamaan terbesar warisan Hadratussyaikh KH Muhamamd Hasyim Asy’ari, KH Abdul Wahab Hasbullah dan para kiai muchlis serta zuhud lainnya itu.
Memang ada yang berpendapat bahwa Muktamar ke-35 NU digelar Agustus 2026 itu menguntungkan kubu Kiai Miftah. Kenapa? Saya kira para kader NU sudah banyak yang tahu alasannya. Tapi terlepas siapapun yang diuntungkan atau dirugikan Muktamar ke-35 NU digelar pada Agustus 2026 tentu lebih baik karena ada kepastian.
Alhasil, beruntung dan berbahagialah 23 PWNU yang telah mengancam akan mosi tidak percaya terhadap PBNU. Karena berkat keberanian moral mereka inilah PBNU tak berkutik, sehingga - suka atau tidak suka - harus menggelar Muktamar ke-35 NU. Padahal - sekali lagi - sebelumnya berbagai upaya mediasi telah dilakukan, termasuk oleh para kiai sepuh, tapi tak mempan: Kiai Miftah selaku Rais Aam dan Gus Yahya selaku Ketua Umum PBNU tetap jalan sendiri2. Bahkan SK PCNU dan PWNU sengaja dibiarkan terbengkalai.
Kini setelah didatangi 23 PWNU para petinggi yang bertikai itu harus mengeluarkan SK dan juga telah menentukan pelaksanaan Muktamar NU pada Agustus 2026 sesuai tuntutan 23 PWNU.
Karena itu saya menilai 23 PWNU itu telah menjadi penyelamat NU. Termasuk menyelamatkan NU dari kecuekan PBNU yg selama ini tidak peka terhadap kegelisahan dan kecewaan para kiai dan warga NU. Akibatnya marwah NU ternoda dan menjadi sasaran gunjingan dan rasan2 sehingga kami di bawah menanggung malu.
Semoga keberanian moral 23 PWNU itu diikuti oleh PWNU dan PCNU yang lain dari seluruh Indonesia.
Sebab sekarang inilah peluang dan momentum mengabdi secara tulus kepada NU, wabilkhusus kepada Hadratussyaih KH M Hasyim Asy'ari dan para muassis lainnya.
Seorang nara sumber (ketua PWNU) yang saya wawancarai mengatakan bahwa PBNU langsung memproses dan menurunkan banyak SK PCNU yang selama ini ditahan yang jumlahnya mencapai hampir 100 SK.
Memang - sekali lagi - PWNU dan PCNU adalah pengurus yang punya mandat untuk menaikkkan dan menurunkan PBNU. Karena itu, ketika PWNU dan PCNU bersatu, maka PBNU yang selama ini merasa digdaya, bahkan main pecat dan suka intervensi Konfercab NU dan Konferwil NU sekarang lemas tak berdaya.
Selamat dan salam hangat penuh takdzim buat para kiai PWNU. Semoga selalu sehat dan panjang umur serta kukuh istiqamah menjalankan amanah.
Wallahua’lam bisshawab.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




