Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani didampingi Wabup Asluchul Alif dan pejabat Forkopimda melepas truk pemuat sampah hasil RDF untuk bahan bakar Semen Gresik.foto: Syuhud/BANGSAONLINE.
GRESIK,BANGSAONLINE.com - Pemerintah Kabupaten Gresik meluncurkan program landfill mining di TPA Ngipik untuk mengolah sampah menjadi bahan bakar alternatif bernilai ekonomis.
Peluncuran dilakukan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Ngipik, Kelurahan Ngipik, Kecamatan Gresik, Selasa (24/2/2026). Program ini dijalankan di bawah kepemimpinan Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani dan Wakil Bupati Asluchul Alif sebagai tindak lanjut arahan Presiden RI ke-8 Prabowo Subianto agar pengelolaan sampah memberikan nilai tambah ekonomi.
Landfill mining merupakan metode pengerukan kembali timbunan sampah lama di zona tidak aktif TPA atau TPST untuk dipilah dan dimanfaatkan kembali. Hasil pengolahan antara lain berupa Refuse Derived Fuel (RDF) sebagai bahan bakar alternatif, kompos, serta material daur ulang lainnya.
TPA Ngipik berdiri di atas lahan seluas sekitar enam hektare yang merupakan aset PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) dan dipinjamkan kepada Pemkab Gresik sejak 2002. Dari total luas tersebut, sekitar 4–5 hektare digunakan sebagai zona aktif pembuangan sampah.
Selama ini, TPA Ngipik menampung sampah dari seluruh wilayah Kabupaten Gresik.
Bupati menyatakan, peluncuran landfill mining merupakan bentuk dukungan terhadap program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam menjaga kelestarian lingkungan.
"Launching landfill mining untuk pengolahan sampah sebagai dukungan terhadap program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka untuk menjaga lingkungan," ungkapnya.
Ia menuturkan, pengelolaan TPA Ngipik telah melalui proses panjang. Saat sejumlah TPA di daerah lain ditutup pemerintah pusat karena pengelolaan yang tidak sesuai ketentuan, TPA Ngipik tetap beroperasi.
"Alhamdulillah TPA Ngipik tak ditutup pemerintah pusat. Sebab, sampah yang ada dikelola tidak hanya ditumpuk atau open dumping. Salah satunya dengan sistim RDF," tuturnya.
Bupati menyebut jumlah penduduk Gresik sekitar 1,3 juta jiwa dan bisa mencapai dua juta orang pada siang hari karena banyak pekerja dari luar daerah. Kondisi tersebut berdampak pada peningkatan volume sampah, yang kini mencapai lebih dari 200 ton per hari.
Sebelum beroperasinya TPST Belahanrejo di Kecamatan Kedamean, sampah dari wilayah Gresik selatan dibuang ke TPA Ngipik.
"Sekarang dengan adanya TPST Belahanrejo pembuangan sampah di TPA Ngipik berkurang..Sampah warga Gresik selatan sekarang dibuang di TPST Belahanrejo," tandasnya.
Ke depan, Pemkab Gresik berencana membangun TPST di wilayah Gresik utara.
"Pak.Wabup sudah lakukan musyawarah rencana pembangunan (Musrenbang) dengan masyarakat utara untuk pembangunan TPST sehingga penanganan sampah di Kabupaten.Gresik makin baik," katanya.
Bupati menambahkan, di TPA Ngipik dan TPST Belahanrejo telah tersedia insinerator untuk pengolahan sampah dengan sistem RDF sebagai bahan bakar ramah lingkungan pengganti batu bara.
Melalui landfill mining, timbunan sampah lama seperti plastik yang telah terpendam 10–20 tahun kini dapat diolah kembali.
RDF sampah untuk bahan bakar alternatif hasil pengolahan sampah terutama non-organik seperti plastik, kertas, melalui proses pemilahan, pencacahan, dan pengeringan untuk meningkatkan nilai kalornya dengan RDF digunakan sebagai pengganti bahan bakar fosil (seperti batu bara) industri.
"RDF sampah di Ngipik sudah kami kerjasamakan dengan PT SIG Tuban dan Rembang, sehingga bernilai ekonomis," bebernya.
"Untuk pengolahan sampah di Ngipik dengan RDF saat ini bisa menghasilkan 25 ton perjam.sementara di TPST Belahanrejo ditargetkan 100 ton perjam," imbuhnya
Selain TPA Ngipik dan TPST Belahanrejo, Pemkab Gresik tambah Bupati, mendorong desa-desa untuk membangun TPS3R (Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle) penghasil briket.
Pembangunan TPS3R merupakan salah satu langkah pemerintah untuk mengurangi sampah, dan pemanfaatan sampah bernilai ekonomis di desa-desa.
"Kami mendorong desa-desa lain bangun TPS3R. Kalau tidak bisa satu desa bisa beberapa desa satu TPS3R, sehingga penanganan sampah di Gresik makin baik terlebih menghasilkan nilai ekonomis, baik dengan mengolah sampah untuk pupuk, kerajinan dan lainnya, sehingga meningkatkan kesejahteraan masyarakat," pungkasnya.
Sekretaris Daerah (Sekda) Gresik Achmad Washil Miftahul Rachman menyampaikan bahwa pembangunan landfill mining dibiayai APBD Gresik tahun 2025 sebesar Rp 6 miliar.
" Pengolahan sampah di TPA Ngipik produk fraksi organik untuk tanah uruk, fraksi non organik untuk RDF dimanfatakan SIG pabrik Tuban dan Rembang dan fraksi batu krikil untuk urukan jalan," katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemkab Gresik Sri Subaidah menambahkan, sampah TPA Ngipik hasil RDF dilakukan kerjasama dengan PT SIG Tuban sejak tahun 2024.
" Dalam kerjasama ini sampah hasil RDF dibeli SIG Rp 650 ribu perton," katanya.
Ia menambahkan, DLH dalam RDF sampah mendapatkan target pendapatan untuk Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari DPRD Gresik.
"Tahun ini kami mendapatkan target PAD Rp 100 juta,"tandasnya. (hud/van)














