Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, dalam acara Megengan menyambut kedatangan bulan suci Ramadan 1447 H di Aula Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) di kawasan Pondok Pesantren Amanatul Ummah Jalan Siwalankerto Utara Surabaya, Senin (16/2/2026) malam. Foto: m. mas'ud adnan/bangsaonline
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, menegaskan bahwa penganut Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) di Indonesia bukan hanya Nahdlatul Ulama (NU) tapi juga Muhammadiyah.
“Penganut Ahlussunnah wal Jamaah di Indonesia itu NU dan Muhammadiyah,” tegas Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA saat menggelar acara Megengan menyambut bulan suci Ramadan 1447 H di Aula kantor Jaringan Kiai Santri Nasional (JKSN) di kawasan Pondok Pesantren Amanatul Ummah Jalan Siwalankerto Utara Surabaya, Senin (16/2/2026) malam.
Hanya saja, tegas Kiai Asep, masih ada riak-riak kecil di Muhammadiyah. Menurut Kiai Asep, masih ada yang pro atau berorientasi Khilafah.
"Tapi jumlahnya sangat kecil," ujar putra pahlawan nasional KH Abdul Chalim yang juga Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) dan Ketua Umum JKSN itu.
“Biasanya mereka, warga Muhammadiyah yang Ahlussunnah wal Jamaah, memilih PAN, sedangkan mereka yang Khilafah memilih PKS,” kelakar kiai miliarder tapi dermawan itu sembari tersenyum.
Para kiai dan guru besar yang hadir tertawa. Bahkan Dr Achmad Rubaie, Ketua Harian DPW PAN Jawa Timur dan Mochammad Fachruddin, Wakil Ketua DPW PAN Jatim yang hadir dalam acara tersebut langsung tertawa lebar.
“Yang tidak milih PAN diragukan NKRI-nya,” kelakar Achmad Rubaie sembari tertawa.
Memang antara NU dan Muhammadiyah tak ada perbedaan prinsip. Kalau toh ada khilafiyah hanya pada bidang furu’iyah (cabang), tidak menyangkut dalil qath’i (pasti) baik dari Al Quran maupun Hadits.
Bahkan antara kiai NU dan tokoh Muhammadiyah justru saling apresiasi atau menghargai dalam perbedaan. Seperti diberitakan BANGSAONLINE, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI Prof Dr Abdul Mu’ti, M.Ed saat berkunjung ke Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya, Sabtu (7/2/2026) lalu, mengaku hafal tahlil berbagai versi. Sehingga ia tak segan-segan memimpin tahlil.
Padahal tahlil selama ini identik dengan ritual keagamaan khas NU. Abdul Mu’ti yang juga Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu kemudian bercerita tentang hubungannya dengan kader-kader NU, diantaranya Saifullah Yusuf (Gus Ipul). Karena ia pernah menjadi Ketua Umum Pemuda Muhammadiyah yang eranya bersamaan dengan Gus Ipul sebagai Ketua Umum GP Ansor.
“Kalau ada pengajian di Ansor yang disuruh mimpin tahlil saya. Karena saya insyaallah masih hafal versi-versi tahlil. Tahlil versi Kudus, tahlil versi Banyuwangi, versi Solo saya hafal. Kulluhum saya hafal semuanya, insyaallah tahlilnya juga tidak keliru,” ujar Menteri Abdul Mu’ti yang langsung disambut ger para ustadz dan ribuan santri Amanatul Ummah.
“Ini menunjukkan bagaimana kami, para pemimpin muslim di negeri ini, terutama baina Muhammadiyah wa Nahdlatul Ulama memiliki kedekatan personal proximity. Sehingga banyak urusan negara bisa diselesaikan, kalau dua organisasi ini memiliki pandangan yang sama, visi yang sama,” ujar Menteri Abdul Mu’ti yang datang ke Amanatul Ummah didampingi istrinya, Masmidah.
Menurut dia, NU dan Muhammadiyah itu ibarat dua sayap burung garuda. “Kalau satu sayap itu patah, maka garuda tidak bisa terbang,” ujar guru besar UIN Syarif Hidayatullah yang banyak menulis buku dan opini di media mass itu.
“Agar garuda itu terbang tinggi, maka dua sayap garuda itu harus mengepak seiring, seirama, untuk tinggi dan hebatnya garuda yang menjadi milik kita bersama,” ujarnya.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




