Gubernur Khofifah saat Misi Dagang Jatim di Semarang.
Selain itu, kerja sama strategis terjalin di sektor gula kristal putih senilai Rp300 miliar, industri hasil tembakau Rp192 miliar, serta pangan dan perikanan dengan nilai ratusan miliar rupiah.
Khofifah menambahkan, pola perdagangan dua arah ini mencerminkan integrasi pasar domestik sekaligus optimalisasi distribusi barang kebutuhan pokok dan komoditas strategis.
“Kita semua sama-sama punya kekuatan dan kelemahan. Karena itu mari tumbuh bersama, berkembang bersama, maju bersama, dan sejahtera bersama. Kuncinya adalah sinergi dan kolaborasi yang terus dikuatkan,” paparnya.
Misi dagang ini juga ditandai dengan penandatanganan sejumlah Perjanjian Kerja Sama (PKS) antar-OPD dan organisasi dunia usaha dari kedua provinsi.

Sejak 2019 hingga Januari 2026, Pemprov Jatim telah menggelar 49 misi dagang domestik di 29 provinsi dengan nilai komitmen Rp30,52 triliun, serta enam misi dagang luar negeri dengan potensi transaksi Rp5,896 triliun.
“Keberhasilan ini menunjukkan bahwa produk unggulan Jawa Timur memiliki daya saing tinggi. Semangat kolaboratif yang sama kami harapkan terus terbangun melalui kerja sama dengan Jawa Tengah,” kata Khofifah.
Turut hadir Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, jajaran perangkat daerah kedua provinsi, serta perwakilan organisasi dunia usaha seperti HIPMI, Kadin, IWAPI, REI, dan Gekraf dari Jatim maupun Jateng. (adv/mid/dev/mar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




