Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi saat audiensi dengan Asosiasi Badan Penyelenggaraan Perguruan Tinggi Swasta (ABP-PTSI) Jatim. Foto: Ist.
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menunjukkan komitmen serius dalam memutus mata rantai kemiskinan melalui jalur pendidikan. Mendengar banyaknya mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dari keluarga prasejahtera yang terancam putus kuliah, Cak Eri—sapaan akrabnya—memastikan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya hadir untuk melunasi biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) mereka.
Keputusan ini diambil setelah Cak Eri menggelar pertemuan dengan Asosiasi Badan Penyelenggara Perguruan Tinggi Swasta (ABP-PTSI) Jawa Timur. Dalam pertemuan tersebut, terungkap fakta miris mengenai mahasiswa yang hampir drop out (DO) karena kendala biaya.
BACA JUGA:
- Wali Kota Eri Cahyadi Tunjuk Wawali Armuji dan Syamsul Hariadi Isi Posisi Plh Selama Ibadah Haji
- Kado HJKS ke-733, Pemkot Surabaya Tambah Empat Mobil Perpustakaan Listrik
- Revitalisasi Dikebut, 5 Pasar Tradisional Surabaya Ditarget Tuntas Pertengahan Mei 2026
- Bukan Cagar Budaya Asli, Pemkot Surabaya Hapus Status dan Bongkar Fasad Eks Toko Nam
“Berarti, yang seharusnya saya sentuh sesuai dengan janji sumpah saya sebagai wali kota adalah mengentaskan kemiskinan dan membantu orang miskin, bukan membantu segelintir orang yang kaya. Maka, saya juga harus membantu yang berada di PTS sehingga anak ini bisa menjadi sarjana dan mengubah nasib keluarganya,” ujar Wali Kota Eri, Minggu (25/1/2026).
Langkah konkret yang akan dilakukan dalam waktu dekat adalah revisi Peraturan Wali Kota (Perwali) tentang Tata Cara Pemberian Beasiswa. Bantuan ini ditujukan bagi mahasiswa yang masuk dalam kategori Desil 1-5 (masyarakat tidak mampu).
Cak Eri telah menginstruksikan Disbudporapar Surabaya untuk segera melakukan sinkronisasi data dengan PTS guna memastikan bantuan tepat sasaran. Berdasarkan data awal, di satu kampus seperti STIESIA saja, terdapat sekitar 300 mahasiswa yang membutuhkan uluran tangan.
“Jadi tidak hanya yang baru saja, tapi yang masih kuliah kemudian tidak bisa membayar (uang) kuliah dan masuk Desil 1-5, akan kita tutup UKT-nya. Sehingga ini bisa menggerakkan (program) Satu Keluarga Miskin, Satu Sarjana di Surabaya,” tegasnya.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




