Ilustrasi Aedes Aegypti.
SAMPANG, BANGSAONLINE.com – Dinas Kesehatan dan Keluarga Berencana (Dinkes-KB) Kabupaten Sampang melaporkan angka kasus demam berdarah dengue (DBD) yang cukup signifikan sepanjang tahun 2025.
Berdasarkan data yang dihimpun dari seluruh puskesmas dan fasilitas layanan kesehatan di Kabupaten Sampang, tercatat sebanyak 494 kasus telah terjadi.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes-KB Sampang, Samsul Hidayat, mengungkapkan laporan tahunan tersebut pada awal Januari 2026. Ia memastikan bahwa data yang masuk telah melalui proses verifikasi yang ketat dan dicatat secara berjenjang.
Menurut Samsul, konsentrasi kasus paling tinggi ditemukan di wilayah padat penduduk, terutama di jantung kota.
"Sebaran kasus terbanyak tercatat di wilayah perkotaan Kecamatan Sampang. Kelurahan Kemuning dan Banyuanyar menjadi wilayah dengan angka tertinggi," katanya, Senin (12/1/2026).
Selain dua kelurahan tersebut, lonjakan kasus juga terpantau di wilayah Tambaan Barat dan Pengarengan. Keempat wilayah ini kini masuk dalam kategori prioritas utama untuk dilakukan upaya pengendalian dan pencegahan lebih lanjut.
Samsul juga membeberkan profil para penderita DBD di Sampang. Meskipun menyerang berbagai lapisan umur, tren menunjukkan bahwa kelompok usia produktif menjadi yang paling rentan.
"Penderita berasal dari berbagai kelompok usia. Kasus terbanyak ditemukan pada usia sekolah berdasarkan laporan layanan kesehatan," terangnya.
Sebagai langkah antisipasi menghadapi tahun 2026, Dinkes-KB telah memetakan sedikitnya 12 titik rawan DBD. Penentuan titik koordinat ini didasarkan pada perbandingan tren kasus yang terjadi selama tahun 2024 dan 2025.
Meskipun sebagian besar wilayah menunjukkan kerawanan, terdapat dua area yang dinilai cukup berhasil dalam menekan angka penyebaran nyamuk Aedes Aegypti.
"Dua kecamatan dilaporkan relatif aman dari kasus DBD. Wilayah tersebut adalah Kecamatan Jrengik dan Mandangin," tutupnya.






