"Maka dengan data dari bencana sebelumnya, ini menjadi basis bagi kita melakukan sebuah proyeksi yang lebih tepat lagi mengenai risiko-risiko dan langkah-langkah untuk mengantisipasinya. Sehingga, sistem di sini dan Command Center yang ada di BPBD bisa saling melengkapi dan bisa saling memberikan support," bebernya.
Langkah lain yang sedang dilakukan adalah National Urban Flood Resilience Project (NUFReP) yang didanai oleh Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank/ADB).
Saat ini, NUFReP menangani wilayah Surabaya dan Malang meskipun Wagub Emil berharap ke depan akan berkembang untuk mencangkup daerah Surabaya Raya.
"Lalu ada juga Volcanic Risk Reduction Program yang didanai oleh JICA dari Jepang untuk penanganan sedimen yang ada di Lumajang. Dan juga ada Inpres Nomor 2 Tahun 2025 untuk mempercepat pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah atau JIAT. Artinya, kita akan punya sumur dengan kapasitas yang lumayan, di atas 10 hingga 20 liter per detik tersebar di 70 titik yang ada di Jawa Timur," tuturnya.
Untuk saat ini, BBWS Brantas masih fokus pada normalisasi dan penguatan di Kali Kedurus Surabaya.
Tak hanya itu, mereka juga aktif berkoordinasi dengan Walikota Surabaya Eri Cahyadi terkait penanganan banjir di Ketintang.
"Jadi yang di sana nanti akan dibuat semacam pompa pengendali banjir yang akan dipasang di sisi sungai. Namun ada bangunan-bangunan yang harus ditertibkan karena memang menduduki yang bukan merupakan lahannya," tandasnya. (dev/van)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




