Aguk Irawan MN.
Ini bukan sekadar riak kecil. Ini adalah gejala keretakan sosiologis di mana afeksi digantikan oleh friksi. Di media sosial, di warung kopi pinggiran, hingga di majelis pesantren, percakapan sering kali memanas. Solidaritas batiniah, yang menjadi pilar utama NU, seakan tergerus oleh pragmatisme kekuasaan dan politik identitas yang keras. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah: apa yang hilang dari diri kita, para pewaris sah tradisi ini?
Di tengah polarisasi itu, di antara saling klaim kebenaran dan tuding-menuding, ingatan kita seolah dipaksa kembali pada sebuah buku kecil, ringkas, namun sarat makna. Ia adalah At-Tibyan fî Nahyi ‘an Muqatha’atil Arham wal Aqarib wal Ikhwan karya Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, sang pendiri. Kitab ini, yang selesai ditulis pada 20 Syawal 1360 H, persis seperti sebuah tamparan lembut bagi mereka yang kini asyik bertikai.
Buku At-Tibyan bukan sekadar teks fikih biasa. Ia adalah wasilah spiritual, sebuah penanda etis yang fundamental. Mbah Hasyim, dengan kearifannya, mengingatkan bahwa memutus silaturahim adalah dosa besar (kabair). Ia mengutip Surah an-Nisa ayat 1 dan Surah Muhammad ayat 22-24, menegaskan bahwa tindakan memutus tali persaudaraan adalah tindakan merusak di muka bumi, mengundang laknat Tuhan.
Pentingnya buku ini sekarang menjadi relevan secara eksistensial. Di saat kader-kader NU terbelah karena ego sektoral, At-Tibyan berfungsi sebagai cermin. Ia mengingatkan bahwa permusuhan, kebencian, dan saling menjauhi tanpa udzur syar’i adalah tindakan yang dicela. Mbah Hasyim tidak hanya berbicara soal kerabat darah (arham), tetapi juga persaudaraan sesama Muslim (ikhwan).
Maka, polemik PBNU hari ini, dengan segala bisingnya, seharusnya memaksa kita untuk berhenti sejenak. Di balik setiap argumen politik, ada kewajiban etis yang jauh lebih tinggi: menjaga ukhuwah. Buku Mbah Hasyim adalah jangkar yang menahan kita agar tidak terseret terlalu jauh dalam arus perpecahan.
Ia adalah semacam navigasi moral, penuntun jalan pulang menuju esensi ajaran NU yang sejati: persatuan, kasih sayang, dan penghormatan terhadap sesama, bahkan dalam perbedaan pandangan politik. Tanpa kembali pada suluh kearifan At-Tibyan, fragmentasi ini akan menjadi kisah tragis tentang sebuah perahu besar yang karam karena nakhodanya lupa cara berlayar bersama. Wallahu'alam bishawab.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News






