Candi Arjuna. Foto: M. Sulthon Neagara/BANGSAONLINE.com
"Banyak tipe candi yang ditemukan di Dataran Tinggi Dieng, ada sekitar 400-an situs yang ditemukan, tapi tidak semua dalam kondisi utuh, hal itu dikarenakan Dieng dulu agamanya Hindu," imbunya.
Dalam sejarahnya, Dataran Tinggi Dieng sempat digunakan sebagai pusat religi umat Hindu. Bahkan yang di Dieng hanya kasta tertinggi, yakni Brahmana dan Ksatria.
"Saat ini Dieng mayoritasnya Muslim atau bahkan gak ada Hindunya, karena waktu penyebaran Islam masuk ke tanah Jawa dan ke Dieng, orang Hindu yang tidak berkenan masuk Islam memilih untuk berpindah ke beberapa tempat, salah satunya ke Candi Gedong Songo, ke Bromo, hingga ke Bali. Sedangkan orang yang mau masuk Islam memilih untuk tetap di Dieng," papar pemandu wisata tersebut.
"Makanya ada dua versi agama Hindu sampai sekarang, yaitu Hindu asli Bali dan Hindu Jawa, kalau Hindu asli Bali kalau meninggal jenazahnya ditaruh di bawah pohon. Tapi kalau Hindu Jawa sudah upacara pembakaran jenazah," pungkasnya.
Terkait penemuan kompleks candi di Dieng, khususnya Candi Arjuna, pertama kali ditemukan pada abad ke-19 tahun 1814. Ditemukan oleh tentara Belanda bernama Thedorf Van Elf. Saat ditemukan, Candi Arjuna masih tergenang air. Baru setelah 40 tahun kemudian, upaya pemeliharaan Candi Arjuna di lakukan.
Pemeliharaan ini dimulai dengan mengeringkan air telaga di Dieng oleh HC. Cornelius, seorang berkebangsaan Inggris, pada tahun 1856, dan dilanjutkan oleh J. Van Kirnsberg, berkebangsaan Belanda, dengan dibantu oleh pemerintahan Hindia-Belanda saat itu.
Setelah upaya pengeringan telaga dan juga pembersihan selesai, Van Kirnsberg mengambil beberapa gambar dan juga catatan mengenai candi Arjuna pada awal penemuan. (msn)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




