Tafsir Al-Hajj 1-2: Ba’alawy dan Kekafiran Sosial

Tafsir Al-Hajj 1-2: Ba’alawy dan Kekafiran Sosial Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i.

Dengan terma ini, sesungguhnya kita bisa melihat diri sendiri, apakah diri kita ini masih berperilaku “muslim” atau sudah terjerembap di kubangan “kafir”..?.

Itulah sebabnya Tuhan mengajari kita agar selalu menjernihkan hati dan aktif berdoa agar dijauhkan dari sifat kebencian terhadap sesama muslim. Bahkan diperintah mendoakan, memohonkan ampunan teruntuk sesama kawan beriman yang telah mendahului kita, sowan di hadapan Tuhan.

Rabbana ighfir lana wa ikhwanina al-ladzin sabaquna bi al-iman.

Lanjutannya ini yang mesti kita hayati “wa taj’al fi qulubina ghilla li al-ladzina amanu Rabbana innak Ra’uf Rahim”. Berdoa agar tidak punya rasa dengki (ghill) terhadap sesama orang beriman.

Maka sangat mengherankan, jika ada seorang kiai, ilmuwan, ustadz yang tega memaki-maki sesama muslim yang orangnya sudah meninggal.

Seburuk apapun perilaku muslim yang sudah wafat tersebut, tetap tidak boleh diudal-udal. Bukankah ayat ini selalu dibaca oleh khatib pada setiap khutbah jum’ah kedua? Tidak paham atau hatinya sedang “kafir”?

Hanya berbeda pandangan saja kok sampai merusak ukhuwwah islamiah. Na’udz billah min dzalik. Bukankah baginda Nabi Muhammad SAW melarang memaki-maki orang yang sudah mati?

Tutupilah aibanya dan mohonkan ampunan atas kesalahannya. Bahkan justru diperintahkan menyebut-menyebut, mempromosikan kebaikan dan jasanya, meski sedikit. “Udzkuru mahasin mautakun”.

Jika alasannya adalah “meluruskan sejarah”, maka apa tolok ukur dan rujukan pastinya? Perbedaan pembacaan dan tafsir sejarah masa lalu itu wajar dan masing-masing punya dasar. Dan itu sah-sah saja.

Jangankan sejarah negeri ini, kurang religius apa peristiwa al-Isra’ dan al-Mi’raj nabi Muhammad SAW. Di kalangan ulama’ diperdebatkan dan seru sekali, berargumen dan hingga kini tidak selesai. Apakah mi’raj beliau itu, ruhnya saja atau sekalian jasadnya?

Jangan-jangan yang meluruskan malah tidak lurus. Hanya menang banter dan keras suara saja. Seperti yang disindir oleh al-imam Abu Thayyib al-Mutanabby: Kam min ‘a’ib qaula shahiha: wa ‘afatuh min al-fahm al-saqim. Betapa banyak orang yang mencela dan memaki terhadap tesis yang benar, padahal kesalahan ada pada pemahaman sendiri yang error.

Lebih dari itu, Allah SWT tidak mengizinkan kita untuk beromantisme kepada sejarah masa lalu, kepada leluhur yang sudah berbuat. Biarlah itu amal mereka sendiri yang urusannya langsung dengan Tuhan. “tilk ummah qad khalat, laha ma kasabat”. Lalu pretasimu sendiri apa? “.. wa lakum ma kasabtun”. “wa la tus’aluna ‘amma kanu ya’malun”. Kamu tidak diminta bertanggung jawab atas amal mereka.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO