Mas Irfan Purbawanto Hidayat saat menjelaskan Meshless Method kepada mahasiswa pascasarjana di Laboratorium Inovasi Material ITS. (Ist)
“Integrasi ini disebut digital engineering yang menghasilkan solusi untuk berbagai permasalahan sains maupun teknik,” sebutnya.
Dengan berbagai keunggulan di bidang komputasi material, Indonesia seakan mendapatkan amunisi baru untuk menunjang rencana pemerintah guna mencapai net zero emission. Irfan menyampaikan bahwa masih perlu penekanan dan fokus pada bidang ini, khususnya di Indonesia.
“Bidang ini sangat berperan penting dalam integrasi alur kerja untuk penemuan dan inovasi di eksplorasi, karakterisasi, hingga proses manufaktur material,” terangnya.
Tak hanya berhenti di situ, Irfan juga menekankan bahwa pengembangan komputasi material ini selaras dengan Sustainable Development Goals (SDGs).
Secara khusus, bidang ini berkontribusi pada SDG 9, yaitu industri, inovasi, dan infrastruktur dengan mendorong inovasi pengembangan material yang lebih efisien dan berkelanjutan. Selain itu, komputasi material juga berperan penting dalam mencapai SDG 7, yaitu energi bersih dan terjangkau.
Terakhir, Irfan berharap agar bidang komputasi material ini dilakukan pendalaman lebih lanjut. Dengan pengembangan lebih lanjut, tentunya akan berdampak baik pada keilmuan dan rekayasa material di Indonesia.
"Saya berharap lebih banyak peneliti dan mahasiswa yang tertarik untuk mendalami bidang ini," pungkasnya. (msn)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




