Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i.
Kedua, sebagai anak Tuhan yang suci, sehingga patut dituhankan. Itulah anggapan agama nasrani.
Dan ketiga, hanya manusia biasa yang ditunjuk sebagai utusan Tuhan seperti nabi-nabi yang lain. Itulah pandangan agama islam.
Pada penutup ayat di atas, kata “ayah” digunakan bentuk mufrad, padahal yang diunggah mutsanna, dua sosok, yakni: Maryam (waja’alna“Ha”) dan Isa (IBNAha). Lughat yang biasa akan berkata: “wa ja’alnaha wa ibnaha Ayatain..”. itu baru matching. Mengapa?
Pertama, bahwa antara ibu Maryam dan putranya, Isa A.S. adalah satu kesatuan dalam penciptaan dan tidak ada hubungannya apa-apa dengan Allah SWT sebagai peran ayah atau bapak. Mereka ditakdirkan begitu oleh Tuhan sebagai bukti kebesaran dan kekuasaan-Nya.
Kedua, Li al-alamin. Kata alamin, bentuk jama’ mudzakkar salim, hanya dipakai untuk hamba Tuhan yang berakal saja, baik dari kalangan Jin maupun manusia.
Kalau alam semesta, bahasa arabnya “’alam”, (mufrad). Artinya, manusia yang menggunakan akal sehatnya mesti mengerti tentang ini dan tidak mengada-ada. Jika mengada-ada, mereka-reka, maka hasilnya pasti mbulet dan paradoks, pasti.
Ketiga, takdir kalam bisa membias ke masing-masing, yakni: Wa ja’alnaha ayah li al-‘alamin, wa ja’alna ibnaha ayah li al-‘alamin... Ini sah menurut al-imam Sibawaih.
Pesannya, atas sosok Maryam sungguh dia adalah tanda kebesaran Tuhan, kerena kesuciannya dan atas diri Isa A.S. dia sebagai nabi unik karena spesifikasinya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




