Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i.
Yang dimaksud dengan, “jangan biarkan aku hidup sendirian” adalah hidup yang hanya satu kali edisi dan berhenti. Hidup yang tidak berkelanjutan, alias tidak punya anak yang mewarisi kelak.
Artinya, orang yang tidak punya anak itu bagaikan tidak punya dokumen hidup yang menginformasikan bahwa dia pernah hidup di dunia. Terputusnya jalur nasab inilah yang paling ditakuti Zakariya A.S. dan lebih dari itu, keberlangsungan dakwah agama juga menjadi sangat penting baginya.
“Engkau maha pewaris”, adalah ungkapan pemujian terhadap Dzat yang Maha terpuji. Terpuji dengan sifat-Nya yang maha pewaris, “khair al-warisin”.
Maha mewarisi semuanya, tetapi juga maha memberi semuanya. Pada tesis ini, tidak ada kalimat yang tegas menunjuk sebuah permintaan. Yang ada hanya pemujian secara tetap, menyentuh, dan proporsional.
Dan Tuhan itu Maha cerdas dan Maha belas kasih. Tidak perlu diterjemah dan tidak butuh dijelaskan, karena Dia maha mengerti, yang akhirnya, doa tersebut didengar dan kabulkan.
“fa istajabna lah”. Kemudian lahirlah seorang anak laki-laki dari perut nenek tua tersebut bernama “Yahya”. “wawahabna lah Yahya”.
Doa super pendek dengan menggunakan bahasa memelas dan sindir itu ternyata efeknya tak terbayangkan. Tuhan Sendiri yang menerjemah dan memberi lebih dari apa yang dikehendaki Zakariya A.S. Bahwa, tidak hanya dianugerahi anak, melainkan bonusnya lebih banyak, antara lain:
Pertama, setelah punya anak, kehidupan rumah tangga Zakariya dan istri semakin harmonis setelah sekian lama “disharmonis” gara-gara belum punya anak, “wa ashlahna lah zawjah”.
Kedua, Yahya tumbuh menjadi anak super shalih dan diangkat menjadi nabi sejak kecil. Bunga keluarga ini sangat menghiasi rumah tangga Zakariya A.S. hingga semua anggota keluarga menjadi hamba Tuhan yang saling berpacu dalam kebajikan, “innahum kanu yusari’un fi al-khairat”.
Inilah rumah sebagai miniatur surga, di mana semua anggotanya mencerminkan perilaku penghuni surga.
Ketiga, keluarga Zakariya adalah keluarga ilahiah. Di mana semuanya selalu dekat dan terus mendekat kepada-Nya. Dalam situasi apapun dan dalam waktu kapan pun. Suka atau duka, longgar atau sempit tak ada pengaruh apa-apa, pokoknya Allah, ya Allah SWT titik. Itulah makna :’ Wa yad’unana raghaba wa rahaba”.
Keempat, “wa kanu lana khasyi’in”. keluarga Zakariya A.S. sungguh orang-orang yang sangat patuh kepada Tuhan, hingga tak parnah ada keluhan bersujud kepada-Nya. Sungguh sebagai keluarga sangat santun terhadap sesama manusia sehingga siapa pun hormat kepada mereka.
Meski demikian keluhuran jiwanya, tapi tidak begitu bagi kaum Yahudi jahat. Zakariya dan Yahya adalah musuh bebuyutan. Bagi mereka, keduanya harus dihabisi.
Akhirnya, bapak dan anak yang sama-sama nabi ini mati dibunuh oleh mereka. Termasuk keponakannya, yaitu Isa ibn Maryam A.S. tapi tidak berhasil. Kedahuluan dievakuasi oleh Tuhan ke langit. Isa masih di sono, sedangkan Zakariya dan Yahya sudah bahagia di pangkuan Tuhan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




