SURABAYA,BANGSAONLINE.com -Konfercab ulang PC GP Ansor Surabaya mendadak digelar di Jakarta, Minggu (23/2/2025).
Sebelumnya, Konfercab dengan agenda pemilihan ketua periode bari tersebut sempat kisruh saat digelar di Balai Pemuda Surabaya pada Minggu (16/2/2025) lalu.
BACA JUGA:
- Gerakan 23 PWNU Ancam Mosi Tak Percaya PBNU Jadi Penyelamat NU
- DPRD Jatim Terima LKPJ 2025, Gubernur Khofifah Tekankan Sinergi Eksekutif-Legislatif
- Dominasi Prestasi Nasional Raih 45.839 Medali di SIMT , Gubernur Khofifah Sampaikan Hal ini
- Goes To Campus UAC, Gubernur Lemhanas: Dari Rahim Pesantren Lahir Indonesia
Sejumlah pengurus anak cabang dan ranting menilai, kisruh yang terjadi lantaran PC GP Ansor Surabaya dan Panitia Konfercab memaksakan kehendak meski syarat menggelar Konfercab belum terpenuhi.
Belakangan, Panitia dan PC GP Ansor Surabaya mendadak mengirim undangan untuk PAC dan Ranting perihal Konfercab yang akan digelar di Kantor PP GP Ansor Jl Kramat Raya, Jakarta.
Undangan mendadak dikirim pada Sabtu (22/2/2025) petang menjelang malam. Sementara Konfercab ulang dijadwalkan digelar pada Minggu (23/2/2025).
Hal ini pun menuai reaksi sejumlah PAC dan Ranting Ansor Surabaya. Mereka menolak hasil Konfercab Dadakan. Hal ini lantaran Konfercab tersebut dinilai hanya akal-akalan panitia dan PC GP Ansor Surabaya untuk memuluskan calon ketua yang didukung.
"Sulapan, ini akal-akalan saja dan sudah tentu banyak kejanggalan, " ujar Ketua PAC Lakarsantri, Rachmat Budi.
Menurutnya, langkah Panitia Konfercab tidak bisa dibenarkan. Sebab, dengan tidak dihadiri jajaran pengurus ranting selaku pemilik hak suara sekaligus menjadikan konfrensi ini cacat dikarenakan kegiatan konfrensi harus di hadiri oleh 50% plus 1 para pemilik hak suara.
"Konfercab yang secara jelas diadakan melanggar PD/PRT dan dengan di adakannya kegaiatan tersebut di kantor pusat GP Ansor di jakarta secara tidak langsung Pimpinan Pusat GP Ansor mengamini adanya tindak kecurangan dalam pagelaran Konfercab," katanya, Minggu (23/4/2025).

Dia menegaskan, pelaksanaan Konfercab ulang secara diam-diam ini juga merugikan bagi kader yang ingin menyalonkan diri sebagai Ketua GP Ansor Surabaya.
"Iki opo-opoan, organisasi besar kok kasih contoh buruk. Ulama dan kiai harus ambil sikap ini, saya sebagai anak muda jadi malu sendiri," katanya.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




