Tafsir Al-Anbiya' 87-88: Nabi Dzu Al-Nun A.S.

Tafsir Al-Anbiya Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i.

Sesungguhnya niat A.S. ini mulia, yaitu mencari lahan baru yang diyakini bisa menerima dakwah islamiah, sehingga nantinya agama Islam bisa lebih tersebar luas dan cepat tumbuh berkembang.

Tetapi di sisi lain, menunjukkan ketidaksabarannya menerima risiko dakwah. Maunya, dakwah itu yang enek-enak saja, yang melegakan saja.

Dari teks di atas terbaca bahwa Allah SWT tersinggung karena tidak dipamiti. Makanya, di tengah perjalanan, Tuhan memberi pelajaran kepadanya. Perahu yang ditumpangi mendadak oleng dan hendak tenggelam. Sang nahkoda membatin, jangan-jangan di antara para penumpang ada yang tidak beres.

Karena tidak ada yang mengaku, lalu diundi. Hingga tiga kali, keluar nama Yunus. Keputusannya, Yunus harus dilempar ke laut lepas demi menyelamatkan para penumpang yang tidak berdosa.

Betul, perahu itu stabil kembali setelah Yunus dilempar. Saat itulah, Tuhan sudah menyiapkan ikan paus raksasa yang siap nampani.

Di dalam rongga mulut tersbut, A.S. sadar akan kesalahannya, yaitu berbuat semaunya tanpa izin kepada Tuhan. lalu, merayu-Nya dengan ungkapan “La ilah illa Anta Subhanak, inni kunt min al-dhalimin”.

Duh Gusti, kulo lepat. Sungguh tidak ada sesembahan selain Engkau. Maha suci Engkau ya Tuhan. sungguh aku ini hamba-Mu yang dzalim.

Begitu seriusnya nabi Yunus A.S. bermunajah, sehingga Tuhan merasa kasihan dan doa dikabulkan. Dari tengah laut, ikan paus itu diperintahkan menepi ke pantai, lalu dimuntahkan. A.S. tergeletak di pasir pantai dalam keadaan lemas dan lunglai.

Ajaib, tumbuh sejenis batang semangka tepat di sampingnya dan cepat berbuah. A.S. mengonsumsi dan segar kembali.

Pelajaran yang dipetik, antara lain: menjadi juru dakwah, guru, pendidik, itu yang sabar, jangan mudah tersinggung, marah, merasa laku dan diperhatikan.

Kedua, mohon dilihat terlebih dahulu dari berbagai sisi, apa sebabnya. Jangan-jangan dari diri pendakwah itu sendiri. Maka, perlu koreksi diri dan seterusnya segera memperbaiki.

Ketiga, sangat disayangkan jika sang juru dakwah frustrasi dan mengambil keputusan cepat, lalu minggat.

Sama-sama pindah lokasi, sungguh berbeda antara nabi Yunus A.S. dan Rasulullah SAW. Rasulullah SAW pindah dari Makkah ke Madinah atas izin Tuhan, sehingga dibahasakan dengan hijrah yang direstui. Hasilnya, sangat sukses dan memuaskan.

Tidak sama dengan nabi Yunus A.S. yang nuruti emosi dan nafsunya sendiri, tanpa restu dan izin dari Tuhan lebih dahulu. Dan al-qur’an membahasakan dengan minggat (abaqa) atau pergi secara mendongkol (dzahab mughdliba). Jadinya, diuji berat, untuk selamat.

Keempat, dari sekian doa para nabi di dalam Alqur’an, rata-rata pendek dan sangat menyentuh. Malah tidak ada kesan mendikte, hanya nelongso dan memelas saja. Pertama memuji kebesaran Tuhan, lalu menyatakan diri sebagai hamba bersalah.

Hanya begitu, tidak ada kata yang menunjukkan permohonan maupun penyelamatan. “La ilah illa Anta, Subhanak, Inni kunt min al-dzalimin”.

Dan kelima, doa yang serius, menunjukkan kebutuhan dan memelas meski berbahasa sindir, lebih didengar Tuhan dan berpotensi dikabulkan. Ya, karena Tuhan Maha mengerti, tidak perlu dijelaskan dan diterjemah. Doa macam ini, acap kali pangabulannya melampaui apa yang diminta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO