Tafsir Al-Anbiya' 83-84: Sakit itu Rahmat

Tafsir Al-Anbiya Dr. KH. Ahmad Musta'in Syafi'ie.

Ya, ada juga doa emosional seperti doanya nabi Nuh A.S. yang bernada jengkel terhadap kaumnya sendiri: "Ya Tuhan, habisi mereka dan jangan ada yang tersisa hidup di permukaan bumi ini".

Betul-betul dikabulkan dan mereka habis sehingga di dunia ini hanya ada yang beriman saja, tidak satu pun ada yang kafir. Tetapi, sebentar kemudian tumbuh lagi kekufuran jilid baru hingga sekarang.

Orang-orang mulia di hadapan Tuhan itu sangat menikmati apa saja di hadapan-Nya. Sakit parah sekalipun, bagi mereka adalah sebuah kenikmatan.

Justru dengan sakit, mereka makin dekat kepada-Nya. Makanya, tidak ada yang tegas dan terang-terang meminta segera disembuhkan. Diserahkan kepada Tuhan, tanpa ada pen-dikte-an.

Tetapi nabi kita SAW menyuruh kita memohon yang terbaik dan berusaha yang terbaik. Berobat dan berdoa. Ada sahabat sakit perut, Rasulullah SAW menasuhati agar meminum madu. Sekali minum, masih murus. Dua kali, masih murus, dan ketiga kali mampet dan sembuh.

Tetapi ketika Ali ibn Abi Thalib sakit mata dan hendak ditugasi membawa bendera perang, Rasulullah SAW tidak membawakan obat mata, melainkan disuwuk dan didoakan, dibacakan ayat: "... fakasyafna ‘ank ghitha’ak fabasharuk al-yaum hadid" (Qaf:22) dan ditiupkan ke matanya. Dengan izin Tuhan, sembuh seketika.

Orang berobat itu sebatas ikhtiar, sebatas usaha yang terbaik dan itu berpahala. Tetapi harus yakin, bahwa dokter itu manusia yang tidak bisa menyembuhkan, bahkan tidak bisa melawan kematiannya sendiri. Dan hanya Tuhan saja yang bisa menyembuhkan.

Makanya, tidak bisa disalahkan jika kita menjumpai seorang tua yang sudah sakit parah dan tidak mau berobat.

Dia sudah membaca kematiannya sendiri dengan feeling dan firasatnya yang tidak bisa dimengerti oleh mereka yang masih hidup. Dia sudah bisa mengkalkulasi maslahah ke depan: apakah uang ratusan juta untuk berobat tanpa ada jaminan sembuh atau disedekahkan, diwariskan dengan kepastian mendapat pahala. Pilihan itu adalah: dia tidak mau dibawa ke rumah sakit, titik.

Yang jelas, orang beriman tidak boleh memandang sakit sebagai kutukan. Itu sama halnya dengan berkata-kata buruk kepada Tuhan.

Agama mengajarkan, bahwa sakit bagi orang beriman adalah rahmat atau setidaknya untuk mengurangi dosa, mengurangi beban siksa kelak di akhirat, tentu bagi yang sabar dan rela terhadap takdir Tuhan. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO