Tafsir Al-Anbiya' 83-84: Nabi Ayub A.S., Sang Penyabar

Tafsir Al-Anbiya Dr. KH. Ahmad Musta'in Syafi'ie.

Riwayat yang dikutib al-Imam al-Qurtubi menyatakan: bahwa pada suatu ketika, Nabi Ayub A.S. bersama beberapa sahabat dekatnya ngeluruk ke seorang pembesar di negeri itu.

Pembesar tersebut punya kebun super subur dan istimewa, tetapi perangainya kasar dan temperamental. Suka main kasar dan menampar orang.

Nabi Ayub A.S. sangat tergiur memiliki kebun istimewa tersebut dan siap membeli berapa pun harganya. Karena tidak berani memaksa, maka beliau bertutur kata lembut dan memelas demi mengambil hati si pembesar galak tersebut.

Hal itu, menurut pandangan Tuhan, tidak pantas dilakukan oleh seorang nabi, utusan-Nya.

Tuhan tidak mengizinkan Rasul-Nya kedonyan (serakah) dan tidak puas dengan apa yang sudah dimiliki. Lebih dari itu, merendah-rendah demikian demi keduniawian adalah aib besar bagi seorang nabi. Menjatuhkan harga diri di hadapan manusia demi hal yang rendah.

Lalu, Tuhan mengujinya dengan ujian yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya oleh beliau.

Pertama, hartanya perlahan surut, tapi pasti. Satu per satu sirna, lalu habis sama sekali, baik karena bencana atau hal lain. Tidak hanya itu, badan nabi Ayub A.S. yang semula ganteng, gagah, dan bersih, menjadi kurus dan kudisan. Makin parah dan menjijikkan, hingga masyarakat mengusirnya ke luar daerah dan hanya ditemani oleh istrinya yang setia.

Sakit begini ini berlangsung seputar sembilan tahun (al-Qurthubi:XI/p.323).

Ada baiknya umat islam berhati-hati menceritakan sakitnya nabi Ayub A.S. Janganlah didramatisir hingga terkesan sangat menjijikkan. Seperti yang pernah Penulis dengar dari penceramah, bahwa beliau itu sangat rela diuji dengan kudisan parah hingga sekujur badan penuh ulat kudis yang banyak. Tetapi beliau adalah seorang nabi yang penuh kasih sayang, termasuk terhadap ulat kudis.

Dikatakan, ketika bersuci dan hendak shalat, nabi Ayub A.S. memunguti ulat-ulat kudis dari boroknya, dikumpulkan di satu bejana yang nyaman dan aman. Lalu, setelah shalat dipungut dan dikembalikan lagi ke borok seperti semula. Meski ada riwayat, tapi Penulis tidak memilih.

Maunya, sang ustadz mengangkat tinggi-tinggi kesabaran nabi Ayub A.S., tetapi lupa, bahwa hal itu menurunkan beliau dari derajat kenabian.

Sakit, ya sakit. Tapi jangan sampai merendahkan karena itu dilarang agama. Sakit itu sifat jaiz bagi para Rasul, dengan syarat: La tu’addi ila naqsh min maratibihin al-aliyah”. Tidak menurunkan derajat kenabian.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO