Dr. KH. Ahmad Musta'in Syafi'ie.
Ingat kapal pesiar raksasa Titanic? Kapal itu dirancang sedemikian rupa dengan dek bertingkat. Andai dek bawah bocor, maka kapal tetap bisa berjalan normal oleh mesin di dek atasnya dan seterusnya.
Kapal Titanic diklaim sangat kokoh sehingga perancangnya, Thomas Andrews Jr. berkata congkak, "Tuhan-pun tak akan mampu menenggelamkan".
Dengan membawa sekitar seribu lima ratus penumpang, kapal itu mengarungi lautan atlantic diiringi riang genbira dan tertawa ria.
Tuhan hanya mengarahkan kapal itu ke gunung es di dasar lautan yang tak terdeteksi. Nahkoda tahu, tapi sudah tidak mungkin menghindar. Kemudian diputarlah kemudi semaksimal mungkin.
Sebuah usaha yang hebat. Tetapi karena beban kapal begitu besar, maka tidak bisa maksimal. Kapal itu terpaksa menyerempet tepian gunung es tersebut yang mengakibatkan lambungnya retak parah.
Ya, sekadar retak. Tapi kemudian makin parah seirama dengan laju kapal yang dahsyat. Akhirnya benar-benar patah dan tenggelam.
Benar, Tuhan tidak menenggelamkan, tapi hanya menyerempetkan saja yang kemudian diteruskan oleh makhluk-makhluk laut yang tak terlihat. Kapal sangat mahal yang hanya sekali pakai dan tamat.
Seorang nelayan di desa saya ada yang bercerita tentang keangkeran laut. Hal itu saat mereka menangkap ikan menggunakan branjang, sejenis rumpon di laut.
Begitu waring, pukat ditarik karena sudah dirasa banyak ikan di dalamnya, ternyata isinya bukan ikan, melainkan bayi-bayi manusia yang sangat menjijikkan. Mereka sadar dan beristighfar. Bayi-bayi itu sirna seketika, tak dimengerti ke mana.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




