Dua siswi SMPN 52 Surabaya yang berhasil menciptakan alat pendeteksi kebocoran gas. Foto: dok. DPRD Kota Surabaya
Hal itu, dapat menjadi pemantik bagi seluruh warga, agar terus mengeksplorasi minat dan bakatnya.
"Sebuah pepatah mengatakan, ilmu tanpa implementasi ibarat pohon tanpa buah; sia-sia. Kalau anak-anak SMP ini ibarat pohon baru ditanam belum besar namun sudah berbuah, varietas unggulan," ungkap Thony.
Menurut Thony, hidup dan tumbuh di Kota Pahlawan berarti bahwa masyarakat harus terus mengobarkan semangat perjuangan. Di Kota Juang, tak pantas jika warganya hanya makan dan tidur.
Sementara itu, Vanessa Dewi Saraswati salah satu siswa SMPN 52 Surabaya yang menciptakan alat ini mengatakan, bahwa nama alat tersebut adalah Integrated Warning System.
Ia menjelaskan, alat pendeteksi kebakaran dan kebocoran gas LPG di rumah, bisa mengirimkan notifikasi ke pos keamanan kampung, disaat ada kebocoran gas LPG.
Ia mengaku, ide bersama rekannya dalam menciptakan alat deteksi kebocoran gas LPG ini, karena terinspirasi dari kebakaran yang terjadi di rumah tetangganya karena terlambat mendeteksi adanya kebocoran, sehingga tidak bisa diantisipasi lebih awal.
"Semuanya ludes terbakar. Salah satu penyebabnya karena satpam kurang cepat mendeteksi. Dengan alat ini, kami berharap kebocoran LPG dan kebakaran bisa dideteksi lebih cepat sehingga diatasi dengan baik. Korban jiwa dan kerugian materiil bisa ditekan," terang Vanessa. (rif)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




