Rekonstruksi Penganiayaan Santri di Kediri Dilaksanakan Secara Tertutup di Mapolres

Rekonstruksi Penganiayaan Santri di Kediri Dilaksanakan Secara Tertutup di Mapolres Suasana rekonstruksi yang tertutup bagi awak media. Foto: MUJI HARJJITA/ BANGSAONLINE

Kemudian para pelaku menyuruh B sholat dan mandi terlebih dahulu. Korban pun bergegas ke kamar mandi. Tetapi saat keluar kamar mandi, korban dalam keadaan telanjang dan diketahui oleh salah satu pelaku.

"Keluar dari kamar mandi B itu telanjang. Kemudian oleh salah satu pelaku dirangkul dan dibawa ke kamar. Kemudian diomongi lagi dan B jawabannya tidak nyambung. 'Iya-iya', gitu tok, tapi tidak dilaksanakan. Terus sempat melotot, akhirnya dipukul lagi," jelas Rini.

Pada hari Kamis (22/2/2024), pelaku sempat mengobati luka-luka korban akibat pemukulan. Mereka juga sempat berniat untuk membawa korban ke rumah sakit, tetapi tidak jadi.

"Kemudian hari Jumat (23/2/2024) jam 03.00 WIB, si AF (sepupu korban) dibangunin. Diomongin, kok B tambah pucat. Lalu dibawa ke rumah sakit. Terus di rumah sakit ternyata kan meninggal," imbuh Rini.

Mengetahui B meninggal dunia di Rumah Sakit Arga Husada Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, AF kembali ke pondok. Dia melapor ke Fatihunada, Pengasuh PPTQ Al-Hanifiyyah.

"Kemudian jenzahnya dibawa ke pondok, lalu dimandikan dan dikafani dibawa ke Banyuwangi hari Jumat setelah sholat jumatan. Lalu di sana heboh itu dan dilaporkan ke polisi," tambah Rini.

Pada saat di Banyuwangi, kata Rini, AF sempat ditanya oleh ibu korban dan dia berbicara apa adanya. Dia mengaku telah memukuli sepupunya tersebut.

"Saat saya dampingi dia bilang apa-adanya. Tidak bilang korban terpeleset. Saya tidak tahu kalau dia beralibi terpelset. Tapi pada saat bersama saya di BAP itu, dia mengakui memukul," tegas Rini.

Menurut Rini, para pelaku menyesal telah menganiaya korban. Bahkan, salah satu pelaku AK merasa syok, karena dia yang pertama kali memulai pemukulan terhadap korban dan tidak menduga korban sampai meninggal dunia.

"Saat ngobrol sama saya, mereka (para pelaku) diam dan menunduk. Salah satunya itu malah sulit untuk berkata-kata, karena dia yang memulai itu," tandas Rini.

Sebagai pengacara yang ditunjuk, Rini berjanji akan berusaha mendampingi para pelaku dengan sebaik-baiknya, agar hak-hak mereka sebagai anak yang bermasalah dengan hukum bisa terpenuhi. Diantaranya, mendampingi sejak dari proses penyidikan di .

Rini ingin agar proses hukum keempat pelaku bisa berjalan transparan. "Kita inginnya apa adanya. Benar-benar transparan. Kemudian anak-anak juga hak-haknya terpenuh. Mudah-mudahan nanti ada jalan," pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, telah mengamankan empat orang tersangka dalam kasus ini. Masing-masing NN (18) siswa kelas 11 asal Sidoarjo, MA (18) siswa kelas 12 warga Kabupaten Nganjuk, AF (16) asal Denpasar, Bali, dan AK (17) warga Surabaya. (uji/rev)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO