Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Trunojoyo Madura, Surokim As.
Saya juga sdh membuktikan dan menyaksikan sendiri bagaimana kekuatan magis para filantroper keluarga madura di Jakarta dalam membantu mahasiswa Madura saat bergiat di Jakarta. Luar biasa dan diluar dugaan.
Para dermawan, para filantropis, dan para good people adalah sektor yang bisa bertahan dari krisis dan harus ada ikhtuar ke arah sini dalam rangka penguatan dana abadi kesra mahaasiswa.
Bagaimana cara melibatkan para filantroper ini. Ikatan alumni penting untuk bisa menginisiasi hal ini. Apalagi situasi kriris selalu datang sikih berganti. Di sisi lain, lembaga filantropi relatif bisa bertahan dari gempuran pandemi. Sehingga, lembaga filantropi idealnya bisa membantu pendidikan agar tetap berjalan sebagaimana mestinya.
Sebagaimana pernah ditulis Yusuf (2021) dalam laman lazismu.org bahwa salah satu poin dalam Arah Kebijakan dan Strategi Penguatan Perguruan Tinggi yang dikeluarkan oleh Bappenas menyebut bahwa Perguruan Tinggi harus mulai melakukan pengembangan dana abadi _(endowment fund)_ dan pengembangan filantropi. Namun, hingga kini masih belum banyak kampus di Indonesia yang melakukan dua hal tersebut. Padahal, di kampus-kampus besar dan tua di dunia telah menggunakan dana abadi untuk membiayai operasional pendidikannya, seperti Universitas Al-Azhar Kairo, Harvard, Oxford, dan Cambridge.
Dalam hal ini, papar Yusuf (2021) bahwa perguruan Tinggi di seluruh Indonesia dan juga di luar negeri memiliki potensi yang besar untuk mulai menggunakan sistem wakaf tunai atau dana abadi untuk membiayai operasional pendidikan. Besarnya aset dan wakaf yang dimiliki bisa saja digunakan untuk pengembangan dana abadi.
Lebih lanjut Yusuf (2021) memaparkan bahwa ada kolaborasi pentahelix lima sektor yang harus dilakukan untuk memajukan perguruan tinggi, yaitu sektor perguruan tinggi itu sendiri, sektor industri, sektor filantropi, pemerintah, dan masyarakat. Sektor filantropi tidak bisa ditinggalkan untuk pengembangan dan kolaborasi perguruan tinggi.
Sekadar ilustrasi bahwa filantropi memiliki potensi dana 346 triliun rupiah. Sedangkan yang bisa dikelola baru sekitar 50 triliun. Di sisi lain, sektor filantropi juga lebih bisa bertahan di tengah pandemi.(Yusuf, 2021)
Hasil survei Lazismu tentang Dampak Sosial Ekonomi Covid-19 Terhadap Perilaku Berderma Masyarakat tahun 2021 menyebut bahwa meskipun pendapatan masyarakat menurun, namun semangat berderma masyarakat tidak menurun.
Belakangan muncul model crowdfunding digital yang begitu besar seperti Kitabisa. Percepatan sektor filantropi ini semakin menggembirakan dunia filantropi, dan membuat pelaku filantropi semakin optimis bahwa ia memiliki potensi yang sangat besar.(Yusuf, 2021)
Di dalam filantropi ada tiga level, yaitu karitatif (sekedar sumbangan), empowering (pemberdayaan), dan advokasi. Karitatif biasanya berbentuk pemberian beasiswa. Empowering biasanya berbentuk bantuan modal untuk pelaku UMKM dengan pendampingan dan pembinaan. Sedangkan advokasi bisa digunakan untuk mendanai riset-riset yang memiliki luaran perubahan kebijakan. Hal ini masih jarang dilirik oleh perguruan tinggi. Padahal, ia bisa mendanai pendidikan dan riset. (Yusuf, 2021)
Mari kita masuki era Shodaqoh (digital). Mari kita galakkan shodaqoh digital alumni dengan menangung renteng bersama adik adik yang masih kekurangan dan kesulitan biaya kuliah. Mekanisme tentang ini bisa dimulai bersama dengan mengandeng baiz dengan sistem sukarelaan. Pak Rektor sudah pernah memberi arahan tentang hal ini agar kegiatan amal para civitas academica punya koneksi langsung dengan kebutuhan dan pengembangan kampus, khususnya bersedekah ke mahasiswa yang menbutuhkan.
Mari kita nnyalakan obor kehidupan dan jangan terus mengumpat terus keadaan gelap karena kampus ini butuh banyak legacy yang mesti diperjuangkan dan bukan ditunggu untuk turun dari langgit tanpa ikhtiar bersama.
Sembari kita terus memperbanyak _book corner_, menambah taman santai _garden, and helper corner_ di kampus, serta ruang ruang publik agar mahasiswa tertahan dan krasan berada dikampus. Jika Cicero mengatakan " if we have a garden dan libary we have everything we need, It is not enough. We must have a new pathway to empower the students' spirit through welfare n humanity".
Penulis merupakan Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Universitas Trunojoyo Madura
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




