Kapolres Ngawi saat memimpin gropyok tikus di area sawah.
Menurutnya, sosialisasi kepada para petani terkait pemberantasan hama tikus di sawah secara aman, akan terus dilakukan. Tujuannya, agar para petani tidak menggunakan jebakan listrik yang dapat membahayakan orang.
"Kita akan selalu mengontrol di sawah apakah ada jaringan listrik untuk jebakan tikus atau tidak, karena berbahaya," tandasnya.
Argo juga meminta kepada para petani, agar menggunakan cara yang lebih aman , seperti gropyok, pengasapan, pasang racun atau cara lain sebagaimana petunjuk Petugas Penyuluhan Pertanian.
"Semoga dengan terjun langsung di sawah dan memberikan imbauan ini, para petani dapat memahami bahayanya jika dilakukan pemasangan jebakan tikus beraliran listrik, kemudian beralih menggunakan cara lain yang lebih aman dan tidak membahayakan jiwa para petani dan orang lain," tuturnya.
Sementara itu, Sardi (56), salah seorang petani yang turut serta dalam kegiatan itu mengatakan, dirinya siap mengikuti imbauan dari petugas untuk tidak memasang jebatan tukus yang diberi aliran listrik.
"Alhamdulillah, para petani di sini tidak ada yang menggunakan aliran listrik sebagai jebakan tikus. Matur suwun pak Polres," ungkap Sardi.
Pemberantasan hama tikus yang dilakukan oleh Polres Ngawi bersama warga itu, dilakukan secara rutin saat musim pemeliharaan padi.
Dengan keikutsertaan dalam kegiatan ini, menurutnya bentuk keaktifan dan kepedulian polisi kepada masyarakat, khususnya para petani dalam mewujudkan Program Kapolri menjadi Polisi yang dicintai masyarakat. (nal/sis)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




