Setelah pertemuan itu, Dra Umaisaroh (Sasa) menjelaskan duduk persoalan pada BANGSAONLINE.com terkait dengan dugaan pengurangan bilai 93 menjadi 60 pada raportnya.
"Tidak ada pengurangan, itu nilai asli. Kami ada dokumennya," kata Sasa.
Sasa lebih lanjut menjelaskan, sekolah ingin melindungi, memberi pembelajaran, dan menjadikan siswa berakhlak mulia.
"Hanya ngingatkan pada siswa kalau kamu punya sikap seperti itu dengan guru bisa dicap jelek. Tidak boleh emosional, mengedepankan egonya. Kami minta kepada orang tua untuk saling berkontribusi," imbuh Sasa.
Ketika ditanya apakah sekolah berusaha membangun komunikasi dengan pihak orang tua? Dijelaskan, kalau saat ini sekolah banyak kegiatan proses pembelajaran. Banyak tamu di sekolah. Pihak sekolah bersifat pasif menunggu kedatangan orang tua siswa.
Ketika disinggung siswa tidak nyaman dan takut dibully, Sasa menegaskan jika sekolah yang dipimpinnya merupakan sekolah ramah anak. Ada proyek stop bullying pada sesama.
“Program kami stop perundungan. Masak kami membully,” jelas Sasa.
Terkait penyelesaian masalah, pihak sekolah sering menanyakan kenapa anaknya tidak masuk. Diakui memang belum ada pihak sekolah yang ke rumah siswa. Namun karena orang tua sudah melakukan pengaduan ke berbagai pihak, sekolah akhirnya hanya menunggu penyelesaian yang diinginkan orang tua siswa.
“Kami tidak ingin masalah ini berlarut larut, kami menunggu,”kata Sasa. (sbi/ns)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




